Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Film Doubt: Potret Kepemimpinan yang Salah


Judul Film: Doubt (tahun 2008)
Penulis naskah: John Patrick Shanley
Bintang Film: Philip Seymour Hoffman (Father Flynn), Meryl Streep (Sister Aloysius), Adams (Sister James), Joseph Foster (Donald Miller), Viola Davis (Mrs. Miller)
Peneropong: Postinus Gulö

Film ini tidak hanya sebatas kritik atas kepemimpinan. Film ini mengungkap fakta yang sering terjadi di kalangan pemimpin. Seringkali kepemimpinan direduksi menjadi sebatas kekuasaan yang kaku, mencurigai, mengawasi (berlaku sebagai pan-optik), menentukan dan “menghancurkan” nasib orang. Pemimpin melupakan tanggung jawab besar yakni menumbuhkembangkan rekan kerjanya serta bawahannya. Ucapan Father Flynn kepada Sr. Aloysius (kepala sekolah) begitu menarik. “Emosi bukanlah fakta. Kecurigaan bukanlah fakta.” Kalimat ini menarik. Betapa tidak, suster begitu yakin bahwa Flynn memiliki hubungan khusus dengan seorang muridnya, Donald Miller. Memang ada pihak ketiga di antara mereka, Sister James. Ia bertipe selalu mencurigai seseorang. Maka ia suka memata-matai rekan kerjanya. Tidak heran jika kabar darinya sebatas gosip!

Saya “menangis” dalam hati melihat keegoisan Sr. Aloysius. Mrs.Miller bersujud minta agar anaknya, Donald Miller tidak dikeluarkan dari sekolah. Kalau dikeluarkan, maka Donald Miller akan dibunuh ayahnya. Apa yang terjadi, Sr. Aloysius tidak mau peduli.

Bagi saya, film ini berbicara mengenai realitas kehidupan kepemimpinan. Manakala, seorang pemimpin lebih mempercayai tukang gosip, pada saat itu pula ia telah melakukan beberapa kesalahan:

Pertama, asal menuduh tanpa fakta. Dalam film ini, Sr. Aloysius dan Sr. James menuduh sekaligus menghakimi bahwa Flynn dan Donald Miller adalah homoseksual. Sr. Aloysius dan Sr. James sering menuduh tanpa harus membuktikan kebenarannya. Karena sipenuduh memiliki otoritas maka ia berpikir ia paling benar, mother knows best. Tidak heran jika ada sebuah adagium: the boss is always right.

Kedua, tidak mempercayai rekan. Flynn adalah partner Sr.Aloysius dan Sr.James, rekan kerja sebagai guru. Relasi ideal di antara mereka seharusnya adalah saling mempercayai. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Sr. Aloysius lebih mempercayai omongan gosip. Saya berpikir-pikir begini: di komunitas manapun terjadi demikian. Manakala seorang pemimpin jarang di komunitas tetapi seolah-olah lebih tahu keadaan komunitas, di sinilah terjadi bahwa ia mengandalkan tukang gosip. Dalam situasi seperti ini, tentu anggota komunitas tidak nyaman dengan sikap kepemimpinan semacam itu. Akan tetapi, realitas ini sering terjadi. Entah kapan disadari.

Ketiga, membenarkan dirinya yang salah. The boss is always right. Cukup fenomenal realitas ini. Sikap ini sering kita alami di komunitas-komunitas manapun. Bawahan di tempatkan di posisi no body, pihak yang hampir selalu dilihat salah, perlu berefleksi, perlu berendah hati, perlu taat. Pada saat yang sama sang pemimpin kurang (saya sebenarnya mau mengatakan tidak) menerapkan dalam dirinya apa yang baru saja ia katakan. Ini realitas. Atasan anti kritik. Maka, mereka begitu terlihat defensif. Membentengi diri dengan berbagai pembenaran yang sebenarnya tidak selalu masuk akal. Aneh! Begitu sering saya gambarkan. Argumen pembenaran itu sebenarnya aktualisasi dari kegagapan karena defensifitas yang berlebihan.

Bagi saya, kualitas seseorang tidak ditentukan oleh jabatan dan statusnya. Keyakinan saya ini terbukti dalam film Doubt tersebut. Sr. Aloysius menjabat sebagai kepala sekolah. Ia seorang biarawati. Tetapi ia tidak memiliki kualitas dalam hal meyakini mana yang lebih benar. Suster itu begitu egois karena ia begitu yakin pada gosip dan emosionalya (sensivitasnya). Di tempat pendidikan-formasi pun terjadi sikap-sikap semacam ini. Ada yang berwajah angkuh. Pola pikirnya “sakit”. Sikap dan tindakan tak bersahabat. Kata-katanya sering melukai. Ia selalu mencurigai. Tidak percaya pada rekannya. Hidupnya membuat konflik (problem maker). Di mana-mana ia dibenci. Tegas tapi dangkal. Seolah-olah hebat tapi “bodoh”. Menegur yang lain selalu ketus dan marah. Pertanda hatinya penuh ketidakberesan, tidak tenteram. Pendeknya hidupnya kaku, tidak mendalam. Tapi ia berani berkata: why you so seriously. Ia hanya mempertanyakan diri orang lain akan tetapi ia mungkin tak pernah melihat dirinya sendiri. Ia hanya melihat balok pada mata orang lain. Ia mungkin berpikir begini: I am the boss, so, I’m always right. Bukan hanya dangkal tapi banal.

Seorang pemimpin idealnya menyadari tanggung jawabnya yang bukan hanya besar tetapi berpengaruh bahkan menentukan. Dalam memikul tanggung jawabnya seharusnya ia mesti memiliki hati yang bersih sehingga ia mampu berpikir positif. Ia mestinya selalu berefleksi agar ia mampu mendengarkan suara Allah sehingga keputusan-keputusan yang ia berikan sangat bijak dan tepat. Ia juga mesti menyadari kelemahannya agar kelemahannya tidak mendominasi perilaku dan keputusan-keputusannya. Dan yang paling penting ia mesti ber-discernment agar keputusannya benar-benar objektif dan bijaksana.

Film ini, menyampaikan pesan yang sangat dalam terhadap saya. Pesan itu bukan sekedar pesan melainkan teguran agar saya tidak berlaku seperti Sr. Aloysius dan Sr. James. Dalam menjalani hidup ini saya diajak untuk melihat orang sebagai yang layak dipercayai dan mempercayai. Ada harapan besar saya dalam menjalani kehidupan ini yakni mempraktekkan hospitalitas yang nyata. Melalui komunikasi yang penuh persaudaraan tanpa seperti komunikasi interogatif dan komunikasi sindiran. Sesama anggota komunitas mesti dianggap sebagai teman bicara, teman bercanda, teman bertumbuh, teman terbuka dan bukan sebagai teman untuk kita interogasi, bukan pula teman yang kita pojokan dengan menunjukkan kesahan-kesahannya di depan publik agar ia malu.

Memang saya juga menyadari, antara idealisme (harapan) saya dengan realitas pasti berbeda. Saya menyadari bahwa tidaklah bijak juga jika saya memaksakan idealisme saya menjadi realitas. Saya mesti berjuang untuk beradaptasi dengan realitas walau saya pasti terluka, marah dan kecewa. Kekecewaan itu pun bukan berarti saya menjadi layu. Saya harus mampu menguasai situasi dan jangan sampai situasilah yang menguasai saya. We first make our habit than habit makes us, meminjam kata Stephen Covey.
Read More...

Otak Pun Perlu Istirahat

Otak Pun Perlu Istirahat
NEW YORK - Maria Kole mencintai pekerjaannya, tapi dia merasa seperti dia kehilangan batas antara "bekerja" dan "tidak bekerja."

Sebagai penerbit untuk buku anak-anak di Brooklyn, New York, Kole biasa bekerja dari rumah dan berinteraksi dengan klien secara elektronik - telepon, chatting, SMS, atau beremail - selama berjam-jam. Kadang penulis akan memanggilnya di tengah malam dan datang dengan sebuah ide.

Perlu istirahat? Pasti. Tapi juga bukan di luar rumahnya. "Di New York, hanya ada kereta bawah tanah, kantor, orang-orang, berbicara, berteriak, membunyikan klakson, sepanjang waktu," katanya.

Kole akhirnya memilih menyingkir, ketika butuh rehat. Pada awal Mei, dia pergi ke Portland, Oregon, sendirian dan menghabiskan waktu lima hari bersembunyi di sebuah rumah kontrakan. Aktivitasnya hanya membaca ulang beberapa buku favoritnya, memasak, dan mendengarkan hujan.

"Saya percaya jauh lebih kuat sekarang daripada sebelumnya bahwa untuk dapat menjadi baik pada apa yang saya lakukan, saya harus baik untuk diri sendiri, kreatif, dan isi ulang kreatif saya sendiri...sebelum saya menjadi zombie yang mati otak," katanya.

Pengalaman Kole menunjukkan dari kekuatan liburan untuk membantu mendapatkan wawasan, menghargai kondisi saat ini dan kembali ke "kehidupan nyata" dengan semangat baru.

Memisahkan dari lingkungan yang akrab bisa membantu mendapatkan perspektif baru pada kehidupan sehari-hari, kata Adam Galinsky, profesor di Kellog School of Management di Northwestern University.

Pertimbangkan bahwa ketika Anda mendapat nasihat dari seorang teman, sarannya sering lebih kreatif daripada apa yang Anda telah putuskan untuk diri sendiri - dan studi ilmiah telah menegaskan hal ini. Itu karena teman Anda telah berjarak secara psikologis dari situasi yang dihadapi. Ketika Anda berada di tengah-tengah masalah, kadang-kadang sulit untuk melepaskan diri dari itu, untuk berpikir tentang hal itu dengan jelas.

Demikian pula, banyak orang menemukan manfaat ketika mereka melakukan perjalanan, karena mereka dapat melihat kehidupan mereka dari cara pandang yang beda.

"Bukan hanya mengambil waktu cuti dari pekerjaan, namun sebenarnya semakin jauh dari tempat tinggal Anda benar-benar penting, karena itulah satu-satunya cara bahwa Anda dapat mencapai perspektif itu," kata Galinsky.

Membenamkan diri dalam budaya yang berbeda, katanya, juga memiliki efek ini.

Penelitian Galinsky dengan William Maddux, seorang profesor di sekolah bisnis INSEAD, telah menemukan bahwa bepergian ke luar negeri membuat orang memiliki pemahaman yang lebih bernuansa dari diri mereka sendiri. Di sisi lain, pada saat yang sama mereka juga memiliki rasa yang lebih baik untuk mengenali siapa mereka.

"Jika Anda ingin mendapatkan manfaat tinggal di luar negeri saat berlibur, kuncinya adalah untuk mencoba memahami dunia melalui perspektif penduduk setempat," katanya. "Tapi Anda tidak perlu meninggalkan negara itu dalam rangka untuk mendapatkan pola pikir baru untuk membawa kembali ke kehidupan sehari-hari." Karena kata kuncinya adalah: bahwa otak perlu istirahat dan berlibur menyegarkan otak Anda.

Ellen Langer, profesor psikologi di Harvard University, melihat manfaat dari berlibur sebagai bagian dari "menjadi sadar". "Amerika adalah bangsa yang tak mengenal libur," kata Langer mengingatkan. Dari sisi psikis, hal ini sungguh tak menguntungkan.
Read More...

Ayah, Ibu, Sediakan Waktu 20 Menit untuk Anak

Ayah, Ibu, Sediakan Waktu 20 Menit untuk Anak
Penggiat Komunitas Dongeng Dakocan, Ivan Sumantri Bonang, menyarankan agar orang tua menyediakan waktu minimal 20 menit yang berkualitas untuk berkomunikasi dengan anak.

"Dalam konteks pendidikan di dalam keluarga, orang tua harus memiliki keterampilan untuk menerjemahkan prinsip pendidikan anak terutama usia dini," kata Ivan, salah seorang pendongeng di komunitas tersebut, di Bandarlampung, Selasa (24/5).

Penyediaan waktu yang berkualitas, lanjut dia, merupakan syarat dasar orang tua untuk menerjemahkan prinsip pendidikan anak usia dini di dalam keluarganya. "Sedianya orang tua harus menyediakan waktu berkualitas yang sebanyak-banyaknya untuk anak-anaknya. Namun karena keterbatasan waktu, maka minimal orang tua harus menyediakan waktu minimal 20 menit yang dapat memukau anak-anaknya agar prinsip-prinsip pengasuhan dapat dilaksanakan," ujar dia.

Ivan menjelaskan, waktu berkualitas bersama antara orang tua dan anak-anak tidak hanya ditentukan oleh banyak atau sedikitnya waktu pengasuhan yang disediakan oleh orang tua untuk anak-anaknya. Waktu berkualitas tersebut sangat ditentukan oleh tingginya intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.

"Semakin banyak waktu yang berkualitas untuk anak-anak, maka kedekatan emosi antara orang tua dengan anak akan terjaga. Kedekatan tersebut akan memudahkan orang tua untuk mentransfer nilai-nilai kepada anak-anaknya. Dan ini memberi peluang yang besar untuk membetuk karakter yang baik dan mengasah banyak jenis kecerdasan," katanya.

Pada saat ini, ujar dia, tidak menutup kemungkinan bahwa pengasuhan seorang anak tidak sepenuhnya dilakukan oleh kedua orang tuanya dengan berbagai alasan, seperti terhalang olah pekerjaan mencari nafkah untuk keluarga.

Sehingga pengasuhan terhadap seorang anak harus diserahkan kepada orang dewasa selain kedua orangtuanya, misalnya nenek, kakak, atau bahkan pengasuh anak.

"Namun, hambatan di atas bukanlah merupakan alasan bagi orang tua untuk tidak melakukan pengasuhan berkualitas bagi anak-anaknya. Dalam rentang waktu yang hanya tersisa sedikit, orang tua harus tetap mengkreasi waktu yang berkualitas bagi anaknya," sarannya.

Dia pun menjelaskan, untuk para orang tua yang mempunyai kesempatan melakukan pengasuhan secara langsung terhadap anak-anaknya, juga tidak dapat dikatakan secara otomatis telah melakukan pengasuhan yang juga berkualitas.

Hal itu bisa terjadi karena ketidakmampuan orang tua untuk berkomunikasi juga kurangnya pemahaman orang tua terhadap kebutuhan anak sesuai dengan usia tumbuh kembangnya.

Di sisi lain kebutuhan anak atas perhatian dan pengasuhan yang sangat intensif dari orang tuanya tidak dapat ditunda.

"Lingkungan awal seorang anak terutama terbatas pada rumah. Itu berarti mereka sangat tergantung pada orang dewasa di dekatnya yakni orang tuanya, maka hubungan antara anak dan orangtua mempunyai peran yang penting dalam menentukan pola perkembangan psikis, sosal, dan emosionalnya di masa depan," kata dia.

Pendongeng itu pun menjelaskan, ada banyak metode yang digunakan untuk mengkreasi waktu pertemuan dalam pengasuhan yang berkualitas antara orangtua dan anak.

Metode yang dapat digunakan adalah permainan sederhana, bercerita, pujian, penghargaan, hafalan nilai-nilai, permainan sebab akibat, permainan kata-kata yang memerlukan pikiran lebih panjang, dan dialog atau diskusi serta dapat diterapkan kepada anak-anak dengan melihat jenjang usia perkembangan.

"Namun untuk anak usia dini, dari kesemua metode diatas, metode bercerita atau mendongeng merupakan metode yang paling tepat. Mengapa demikian? Karena bayi atau anak-anak belum memiliki referensi tentang banyak hal dan belum bisa berfantasi karena keterbatasan kognitif dan bahasa mereka," katanya.

Orang tua harus memberikan rangsangan untuk meningkatkan kemampuan anak tersebut, untuk itu orang tua perlu menggambarkan secara rinci tentang segala sesuatu yang diceritakannya.
Read More...

Lulusan Terbaik Un Dan Kepintaran Yang Teredusir: Monopoli Kognisi Dalam Standar Kecerdasan Dan Tantangan Bagi Umat (Part 2)

Anda tahu, mengapa kampus-kampus Perguruan Tinggi Negeri seperti UI, IPB, UGM, atau ITB belum mau menerima nilai UN sebagai kriteria Seleksi Penerimaan Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)? Tentu banyak alasan. Salah satunya adalah pihak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) memang belum meyakini sepenuhnya bahwa hasil UN dapat dijadikan patokan kualitas siswa.
Read More...

Lulusan Terbaik Un Dan Kepintaran Yang Teredusir: Monopoli Kognisi Dalam Standar Kecerdasan Dan Tantangan Bagi Umat (Part I)

Oleh, Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Konselor Muslim
Nasib Shelly Silvia Bintang kini berbalik 180 derajat. Dua minggu lalu, harapannya masuk Fakultas Kedokteran tipis karena masalah dana. Kini harapannya itu muncul kembali setelah ia membuka ketidakberpihakan dunia pendidikan kita terhadap siswa tidak mampu di tanah air.
Read More...

Kepribadian dalam Psikologi Islami

Wacana mengenai kepribadian dalam Islam banyak disinggung akhir-akhir ini. Hal itu banyak di inspirasi para tokoh-tokoh Islam macam Al Ghazali, Jalaluddin Rumi, Ibnu Miskawih dan lainnya yang fokus membedah permasalahan itu. Tetapi secara cakupan psikologi ilmiah, pada dasarnya buku karangan Prof Malik Badri-lah yang seakan-akan menjadi keladi dari ini semua. Akan tetapi, kita tidak akan membahas buku dilemma psikolog muslim yang fenomenal itu.
Read More...

ANGER IN CHILDREN

Dealing with angry children is the most difficult part of a parent's job. It stirs feelings ranging from exhaustion to nerve wracking aggravation. Often parents and children get locked into a contest of wills, and the parent wins with a "Because I Said So" argument. Afterward, they doubt themselves as parents and feel guilty, ashamed, and inept. Many of us were taught as children that we were not allowed to be angry, that being angry was bad, or that it was our fault if we were angry. These kinds of mistaken beliefs from our own childhood make it more difficult for us to handle anger in children.
    the first step toward better management of children's anger is to set aside what we were taught, and instead teach something new. Teach children that anger is normal, that it is ok to get angry. the task then becomes how to manage anger and channel it toward productive or at least acceptable outlets.
    Parents and teachers must remember that just as there are many things in our adult lives that make us angry (i.e., being cut off in traffic, losing something important, or being frustrated by our computers). Becoming angry at these types of events is normal. Likewise, there are many things in children's lives that make them angry, and their reactions are normal. Adults must allow children to feel all of their feelings, and model acceptable ways to manage them.
Children respond with anger because they feel helpless
    To understand why a child becomes more angry than other children takes some time and effort. What triggered the outburst? the thing to realize is that our anger is generally a reaction to frustration. In children, however, anger appears to be a more generic emotion. It can be triggered by embarrassment, loneliness, isolation, anxiety, and hurt. Children often respond with anger to these types of situations because they feel helpless to understand the situation fully and helpless to change it. In a way, their anger is a response to frustration as well. Copied from the web.
    A child that is especially defiant may be behaving this way to counteract dependency and fears of loss. A child who feels hurt by a loss may become angry as a way to avoid feeling sad and powerless. Sometimes a child's anger prompts an adult to set rules more clearly, explain matters more thoroughly, or make changes in the child's environment. In other words, a child may have learned that anger is an all-purpose red flag to let others know that something is very wrong.

    It is important to remember that anger is not the same thing as aggression. Anger is a feeling, while aggression is a class of behaviors. Anger is a temporary emotional state caused by frustration; aggression is often an attempt to hurt a person or to destroy property.
Explain that anger is OK, aggression is not
    Dealing with a child's anger requires first finding out what they feel. Ask them what's happened, what went wrong, or why they are feeling what they feel. They may be able to tell you very clearly. On the other hand, they may need your help to label their feelings. A parent might respond to a child who hits his brother by asking why he hit him. Go beyond the "he did this first" argument and ask where they learned to hit to tell other people to stop doing something. Maybe other kids at school hit, and the child is learning to do the same. Copied from the web.
    Explain that anger is OK (i.e., "I know how you feel, it makes me mad when other people borrow my thing and don't ask too"). However, explain that aggression (hitting his brother) is not ok. Offer other ways to express his anger. A parent might say something like, "Here's what I do when I get mad."
    Don't just tell your child what not to do; tell them what they should do too. "Don't hit your brother when you're mad. Tell me about what happened, or tell him to give your toys back, or warn him you'll tell me."
    Some parents want to punish anger because they don't like aggression. Contrary to popular opinion, punishment is not the most effective way to communicate to children what we expect of them. Explaining, modeling, and setting rules is. Expect that your child will break a rule three or four times. This is how they learn which rules are serious ones, which ones you will enforce, and which ones can be broken under certain circumstances. Breaking rules often isn't done in anger, but is a way of learning. Copied from the web.

8 Tips for Angry Children

Responding to the Angry Child
    Some of the following suggestions for dealing with the angry child were taken from The Aggressive Child by Fritz Redl and David Wineman. They should be considered helpful ideas and not be seen as a "bag of tricks."

1) Comment on your child's behaviour when it is good.


    Something like, "I like the way you handled your brother when he took your stuff." An observant and involved parent can find dozens of things they like about their child's behaviour..."I like the way you come in for dinner without being reminded"; "I appreciate your hanging up your clothes even though you were in a hurry to get out to play"; "You were really patient while I was on the phone"; "I'm glad you shared your snack with your sister"; "I like the way you're able to think of others"; and "Thank you for telling the truth about what really happened." Copied from the web.
    Teachers can do the same, offering, "I know it was difficult for you to wait your turn, and I'm pleased that you could do it"; "Thanks for sitting in your seat quietly"; "You were thoughtful in offering to help Johnny with his spelling"; "You worked hard on that project, and I admire your effort."
    Ignore inappropriate behaviour that you can tolerate. Nagging you while you're on the phone can be dealt with by praising what you liked ("Thank you for waiting while I was talking on the phone. I'm off the phone now, so what's up?") and ignoring what you don't like (ignoring a child's requests while you are on the phone). You may be thinking, "You don't know what they do then. Then they yell louder and   you have to answer them just to have some quiet." When you respond this way, you reinforce them for yelling. Yelling gets your attention, so next time they will yell louder to make sure you respond.
    Say "NO!" as needed. Limits should be explained clearly and enforced consistently. Don't say "no" all the time though. Be sure to say yes when it is appropriate and point out why that moment is appropriate. Copied from the web.

2) Provide physical outlets and exercise, both at home and at school.


     We may kick a trash can, cut wood, or do something that lets us slam things around (like clean the kitchen). Kids need physical activity to let off steam too. Keep in mind that you can allow this without risking your safety or the child's. Let them stomp and kick a trash can in their room, but not in the living room.
    Also keep in mind that hugs can often make strong emotions less difficult for a child. You don't hug to make the anger go away though; hug to let the child know you understand their anger and that you take it seriously.

3) Take an interest in your child's activities.


    Attention and pride can often make negative emotions easier to deal with. Failures and frustrations often mean less when a child knows their parent loves them and is proud of them for others things they do and know. Encourage children to see their strengths as well as their weaknesses. Help them to see that they can reach their goals. Make failure and setbacks part and parcel of life. Sometimes children do aggressive or destructive things to force an adult to get involved and pay attention. Older children may have angry outbursts when frustrated by difficult tasks, like studying. Parents can move in, offer help, and praise the older child for their efforts.

4) Use humor.


     Teasing or kidding can often defuse an angry situation and allow a child to "save face." Don't use humor to ridicule your child; use it to make fun of the situation. Something like, "I know you are mad at that little girl for calling you names. Especially such stupid names. She must not be very smart if the meanest thing she knows how to say is "dumb butt."

5) When situations change, tell the child directly.


     "I know that noise you're making doesn't usually bother me, but today I've got a headache, so could you find something else you'd enjoy doing that's a little quieter?" When your headache is gone, let them know they can go back to what they were doing before.

6) Use physical restraint if needed.


     Sometimes a child can't stop himself or herself once a tantrum has begun. Physically removing the child from the scene or intervening isn't a type of punishment; it's a way to help your child stop their behavior long enough to gain some control over it.

7) Use bargaining as needed.


     We often control our own behavior by doing this. "After a day like this, I deserve a really good meal" may help us curb our own temper when needed. This is not the same as bribery or blackmail. Know what your child likes and what is important enough to your child to serve as a good motivator to manage their anger.








Helping Children Deal With Their Anger
Printer friendly version
Anger is like the mercury in a thermometer. When left unchecked the intensity of the emotion increases from frustration to anger and then to other things like rage and bitterness. As the intensity builds, people shut themselves off from others and relationships close down. Having a plan to deal with anger can limit the intensity and prevent much of the destruction anger tends to cause.
Most families don’t have a plan for anger. They somehow just continue on, hoping things will get better. Many families don’t resolve their anger, but just keep trying to start over. Starting over may be helpful at times, but it tends to ignore the problem rather than address it. Here are some ideas for dealing with anger in your family.
1. Anger is good for identifying problems but not good for solving them.
One of the problems people face is the guilt they feel after they’ve gotten angry. This further complicates the situation. God created us as emotional beings and emotions are helpful for giving us cues about our environment. Anger, in particular, points out problems. It reveals things that are wrong. Some of those things are inside of us and require adjustments to expectations or demands. Other problems are outside of us and need to be addressed in a constructive way. Helping children understand that anger is good for identifying problems but not good for solving them is the first step toward a healthy anger management plan.
2. Identify the early warning signs of anger.
Children often don’t recognize anger. In fact, many times they act out before they realize what happened. Identifying early warning signs helps children become more aware of their feelings, which in turn gives them more opportunity to control their responses to these feelings.  How can you tell when you’re getting frustrated? How can your children identify frustration before it gets out of control?
Here are some common cues in children which indicate that they are becoming angry and may be  about to lose control:
• tensed body
• clenched teeth
• increased intensity of speech or behavior
• unkind words or the tone of voice changes to whining or yelling
• restlessness, withdrawal, unresponsiveness, or being easily provoked
• noises with the mouth like growls or deep breathing
• pouting
• squinting, rolling the eyes, or other facial expressions
Learn to recognize the cues that your child is beginning to get frustrated. Look for signs that come before the eruption. Once you know the cues, begin to point them out to your child. Make observations and teach your child to recognize those signs. Eventually children will be able to see their own frustration and anger and choose appropriate responses before it’s too late. They’ll be able to move from the emotion to the right actions, but first they must be able to recognize the cues that anger is intensifying.
3. Step Back.
Teach your child to take a break from the difficult situation and to get alone for a few minutes. One of the healthiest responses to anger at any of its stages is to step back. During that time the child can rethink the situation, calm down and determine what to do next. Frustrations can easily build, rage can be destructive, and bitterness is always damaging to the one who is angry. Stepping back can help the child stop the progression and determine to respond differently.
The size of the break is determined by the intensity of the emotion. A child who is simply frustrated may just take a deep breath. The child who is enraged probably needs to leave the room and settle down.
4. Choose a better response.
After the child has stepped back and settled down, then it’s time to decide on a more appropriate response to the situation. But what should they do? Parents who address anger in their children often respond negatively, pointing out the wrong without suggesting alternatives.
There are three positive choices: talk about it, get help, or slow down and persevere. Simplifying the choices makes the decision process easier. Even young children can learn to respond constructively to frustration when they know there are three choices.  These choices are actually skills to be learned. Children often misuse them or overly rely on just one. Take time to teach your children these skills and practice them as responses to angry feelings.
5. Never try to reason with a child who is enraged.
Sometimes children become enraged. The primary way to tell when children are enraged is that they can no longer think rationally and their anger is now controlling them. Unfortunately, many parents try to talk their children out of anger, often leading to more intensity. The child who is enraged has lost control. You may see clenched fists, squinting eyes or a host of venting behaviors. Anger is one of those emotions that can grab you before you know what’s happening. The intensity can build from frustration to anger to rage before anyone realizes it.
Whether it’s the two-year-old temper tantrum or the 14 year-old ranting and raving, don’t get sucked into dialog. It only escalates the problem. Talking about it is important but wait until after the child has settled down.
6. When emotions get out of control, take a break from the dialog.
Sometimes parents and children are having a discussion about something and tempers flare. Mean words often push buttons which motivate more mean words and anger escalates. Stop the process, take a break and resume the dialog after people have settled down.
7. Be proactive in teaching children about  frustration management, anger control, rage reduction and releasing bitterness.
Model, discuss, read and teach your children about anger. There are several good books on this subject available, which are written for children at various age levels. Talk about examples of frustration and anger seen in children's videos. Talk about appropriate responses. Work together as a family to identify anger and choose constructive solutions.
8. When anger problems seem out of control or you just don’t know what to do, get help.
Sometimes a third party can provide the helpful suggestions and guidelines to motivate your family to deal with anger in a more helpful way. Children can begin to develop bitterness and resentment in their lives and may need help to deal with it. Unresolved anger can create problems in relationships later on. Children do not grow out of bitterness, they grow into it. Professional help may be needed.
This material is taken from chapter 5 of the book, Home Improvement, The Parenting Book You Can Read to Your Kids . The book also contains other ideas which will help your children learn to control their anger and practical ways that you as a parent can teach them. A CD entitled, Helping Children Deal with Anger is also available. You can play this CD with children to develop an anger management plan together as a family.















BOOK PREVIEW

Managing and Coping with the Angry Child
Coping with the angry child
When children feel inadequate to cope with a situation, when they don't even know what the reality of the situation requires them to do, it frustrates them, it makes them very angry. Then, they will do something that does not need to be done--mischief. Mischief is self indulgent, counter-productive and ultimately self destructive. If it is not managed properly it does not get better, it gets worse. It escalates until you can't stand it any longer and explode. Mischief ranges from talking back to parents to setting the house on fire. It covers everything that does not need to be done.

Children who feel inadequate to cope do not respect themselves or others
They hold themselves in contempt and behave accordingly. We may think that their behavior is illogical, but it is not. They have their own logic, "I am worthless and stupid, worthless and stupid things deserve to be destroyed, therefore, I deserve to be destroyed/punished". This is the logic of self-destructive misbehavior. Their misbehavior and mischief is their way of bringing about the punishment and destruction that they feel they deserve. The child's negative behavior always has a hidden purpose underneath it. To effectively manage and cope with the child's anger, and the misbehavior associated with it, you must be able to identify the underlying purpose and the goals of negative behavior. After you have identified the negative purpose or goal of the child's behavior, you are in a position to do something constructive about it and learn how to emotionally disengage from his provocative behavior.

The problem is not the child's anger
The problem is the mismanagement of the anger. Mischief and misbehavior CAN be a problem, but it is also an opportunity to teach responsibility and anger management skills to the child. There are two very effective ways to do this. Give them choices, and give them personal examples.
Responsibility = Choices + Consequences
Responsibility is learned by making choices and then accepting the outcome and consequences of those choices and decisions. Therefore, the most essential condition that we must create for our children is to provide them with the freedom to make choices and the awareness of the logical consequences thereof.

Of course, we must exercise appropriate discrimination when creating these conditions to teach responsibility to our children. Read Coping With the Angry Student/ Child resource manual for examples of anger management activities for students and children.

Personal Example
Example is not only the best way to teach character and anger management to our children, it is the ONLY way to teach it! As parents, teachers, counselors or education professionals, we must model appropriate behavior to our students/children. It is the way you, as a parent or teacher, are managing your anger problems and frustration that provide children with the best means of handling their own anger and frustration. Therefore, we must-as a precondition- learn how to effectively and appropriately manage our own anger and then, model these skills for our students/children. Example is always the best teacher.

As parents, teachers, counselors or education professionals, we must model appropriately. Learn how to understand children's actions.

Helping Young Children Deal with Anger

Children's anger presents challenges to teachers committed to constructive, ethical, and effective child guidance. This Digest explores what we know about the components of children's anger, factors contributing to understanding and managing anger, and the ways teachers can guide children's expressions of anger.

Three Components of Anger

Anger is believed to have three components (Lewis & Michalson, 1983):

The Emotional State of Anger. The first component is the emotion itself, defined as an affective or arousal state, or a feeling experienced when a goal is blocked or needs are frustrated. Fabes and Eisenberg (1992) describe several types of stress-producing anger provocations that young children face daily in classroom interactions:

Conflict over possessions, which involves someone taking children's property or invading their space.
Physical assault, which involves one child doing something to another child, such as pushing or hitting.
Verbal conflict, for example, a tease or a taunt.
Rejection, which involves a child being ignored or not allowed to play with peers.
Issues of compliance, which often involve asking or insisting that children do something that they do not want to do--for instance, wash their hands.

Expression of Anger. The second component of anger is its expression. Some children vent or express anger through facial expressions, crying, sulking, or talking, but do little to try to solve a problem or confront the provocateur. Others actively resist by physically or verbally defending their positions, self-esteem, or possessions in nonaggressive ways. Still other children express anger with aggressive revenge by physically or verbally retaliating against the provocateur. Some children express dislike by telling the offender that he or she cannot play or is not liked. Other children express anger through avoidance or attempts to escape from or evade the provocateur. And some children use adult seeking, looking for comfort or solutions from a teacher, or telling the teacher about an incident.

Teachers can use child guidance strategies to help children express angry feelings in socially constructive ways. Children develop ideas about how to express emotions (Michalson & Lewis, 1985; Russel, 1989) primarily through social interaction in their families and later by watching television or movies, playing video games, and reading books (Honig & Wittmer, 1992). Some children have learned a negative, aggressive approach to expressing anger (Cummings, 1987; Hennessy et al., 1994) and, when confronted with everyday anger conflicts, resort to using aggression in the classroom (Huesmann, 1988). A major challenge for early childhood teachers is to encourage children to acknowledge angry feelings and to help them learn to express anger in positive and effective ways.

An Understanding of Anger. The third component of the anger experience is understanding--interpreting and evaluating--the emotion. Because the ability to regulate the expression of anger is linked to an understanding of the emotion (Zeman & Shipman, 1996), and because children's ability to reflect on their anger is somewhat limited, children need guidance from teachers and parents in understanding and managing their feelings of anger.

Understanding and Managing Anger

The development of basic cognitive processes undergirds children's gradual development of the understanding of anger (Lewis & Saarni, 1985).

Memory. Memory improves substantially during early childhood (Perlmutter, 1986), enabling young children to better remember aspects of anger-arousing interactions. Children who have developed unhelpful ideas of how to express anger (Miller & Sperry, 1987) may retrieve the early unhelpful strategy even after teachers help them gain a more helpful perspective. This finding implies that teachers may have to remind some children, sometimes more than once or twice, about the less aggressive ways of expressing anger.

Language. Talking about emotions helps young children understand their feelings (Brown & Dunn, 1996). The understanding of emotion in preschool children is predicted by overall language ability (Denham, Zoller, & Couchoud, 1994). Teachers can expect individual differences in the ability to identify and label angry feelings because children's families model a variety of approaches in talking about emotions.

Self-Referential and Self-Regulatory Behaviors.Self-referential behaviors include viewing the self as separate from others and as an active, independent, causal agent. Self-regulation refers to controlling impulses, tolerating frustration, and postponing immediate gratification. Initial self-regulation in young children provides a base for early childhood teachers who can develop strategies to nurture children's emerging ability to regulate the expression of anger.

Guiding Children's Expressions of Anger

Teachers can help children deal with anger by guiding their understanding and management of this emotion. The practices described here can help children understand and manage angry feelings in a direct and nonaggressive way.

Create a Safe Emotional Climate. A healthy early childhood setting permits children to acknowledge all feelings, pleasant and unpleasant, and does not shame anger. Healthy classroom systems have clear, firm, and flexible boundaries.

Model Responsible Anger Management. Children have an impaired ability to understand emotion when adults show a lot of anger (Denham, Zoller, & Couchoud, 1994). Adults who are most effective in helping children manage anger model responsible management by acknowledging, accepting, and taking responsibility for their own angry feelings and by expressing anger in direct and nonaggressive ways.

Help Children Develop Self-Regulatory Skills. Teachers of infants and toddlers do a lot of self-regulation "work," realizing that the children in their care have a very limited ability to regulate their own emotions. As children get older, adults can gradually transfer control of the self to children, so that they can develop self-regulatory skills.

Encourage Children to Label Feelings of Anger. Teachers and parents can help young children produce a label for their anger by teaching them that they are having a feeling and that they can use a word to describe their angry feeling. A permanent record (a book or chart) can be made of lists of labels for anger (e.g., mad, irritated, annoyed), and the class can refer to it when discussing angry feelings.

Encourage Children to Talk About Anger-Arousing Interactions. Preschool children better understand anger and other emotions when adults explain emotions (Denham, Zoller, &Couchoud, 1994). When children are embroiled in an anger-arousing interaction, teachers can help by listening without judging,evaluating, or ordering them to feel differently.

Use Books and Stories about Anger to Help Children Understand and Manage Anger. Well-presented stories about anger and other emotions validate children's feelings and give information about anger (Jalongo, 1986; Marion, 1995). It is important to preview all books about anger because some stories teach irresponsible anger management.

Communicate with Parents. Some of the same strategies employed to talk with parents about other areas of the curriculum can be used to enlist their assistance in helping children learn to express emotions. For example, articles about learning to use words to label anger can be included in a newsletter to parents.

Children guided toward responsible anger management are more likely to understand and manage angry feelings directly and non aggressively and to avoid the stress often accompanying poor anger management (Eisenberg et al., 1991). Teachers can take some of the bumps out of understanding and managing anger by adopting positive guidance strategies.

Condensed by permission from Marian Marion, "Guiding Young Children's Understanding and Management of Anger," Young Children 52(7), 62-67. Copyright 1997 by the National Association for the Education of Young Children.

References

Brown, J. R., & Dunn, J. (1996). Continuities in emotion understanding from three to six years. CHILD DEVELOPMENT, 67(3), 789-803. EJ 528 209.

Cummings, E. (1987). Coping with background anger in early childhood. CHILD DEVELOPMENT, 58(4), 976-984. EJ 359 847.

Denham, S. A., Zoller, D., & Couchoud, E. A. (1994). Socialization of preschoolers' emotion understanding. DEVELOPMENTAL PSYCHOLOGY, 30(6), 928-937. EJ 498 090.

Eisenberg, N., Fabes, R., Schaller, M., Carlo, G., & Miller, P. (1991). The relations of parental characteristics and practices to children's vicarious emotional responding. CHILD DEVELOPMENT, 62(6), 1393-1408. EJ 439 967.

Fabes, R. A., & Eisenberg, N. (1992). Young children's coping with interpersonal anger. CHILD DEVELOPMENT, 63(1), 116-128. EJ 439 998.

Hennessy, K. D., Rabideau, G. J., Cicchetti, D., & Cummings, E. M. (1994). Responses of physically abused and nonabused children to different forms of inter-adult anger. CHILD DEVELOPMENT, 65(3), 815-828.

Honig, A., & Wittmer, D. (1992). PROSOCIAL DEVELOPMENT IN CHILDREN: CARING, SHARING, AND COOPERATION: A BIBLIOGRAPHIC RESOURCE GUIDE. New York: Garland.

Huesmann, L. (1988). An information processing model for the development of aggression. AGGRESSIVE BEHAVIOR, 14(1), 13-24.

Jalongo, M. (1986). Using crisis-oriented books with young children. In J. B. McCracken (Ed.), REDUCING STRESS IN YOUNG CHILDREN'S LIVES (pp. 41-46). Washington, DC: NAEYC.

Lewis, M., & Michalson, L. (1983). CHILDREN'S EMOTIONS AND MOODS. New York: Plenum.

Lewis, M., & Saarni, C. (1985). Culture and emotions. In M. Lewis & C. Saarni (Eds.), THE SOCIALIZATION OF EMOTIONS (pp. 1-17). New York: Plenum.

Marion, M. (1995). GUIDANCE OF YOUNG CHILDREN. Columbus, OH: Merrill.

Michalson, L., & Lewis, M. (1985). What do children know about emotions and when do they know it? In M. Lewis & C. Saarni (Eds.), THE SOCIALIZATION OF EMOTIONS (pp. 117-139). New York: Plenum.

Miller, P., & Sperry, L. (1987). The socialization of anger and aggression. MERRILL-PALMER QUARTERLY, 33(1), 1-31. EJ 351 314.

Perlmutter, M. (1986). A life-span view of memory. In P. B. Baltes, D. L. Featherman, & R. M. Learner, LIFE-SPAN DEVELOPMENT AND BEHAVIOR (Vol. 7). Hillsdale, NJ: Erlbaum.

Russel, J. A. (1989). Culture, scripts, and children's understanding of emotion. In C. Saarni & P. L. Harris (Eds.), CHILDREN'S UNDERSTANDING OF EMOTION (pp. 293-318). Cambridge, England, UK: Cambridge University Press.

Zeman, J., & Shipman, K. (1996). Children's expression of negative affect: Reasons and methods. DEVELOPMENTAL PSYCHOLOGY, 32(5), 842-850. EJ 534 557.
Read More...

Hassan Hanafi : Islam Adalah Protes, Oposisi, dan Revolusi

Hassan hanafi adalah Guru Besar pada fakultas Filsafat Universitas Kairo. Ia lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, di dekat Benteng Salahuddin, daerah perkampungan Al-Azhar. Kota ini merupakan tempat bertemunya para mahasiswa muslim dari seluruh dunia yang ingin belajar, terutama di Universitas Al-Azhar. Meskipun lingkungan sosialnya dapat dikatakan tidak terlalu mendukung, tradisi keilmuan berkembang di sana sejak lama. Secara historis dan kultural, kota Mesir memang telah dipengaruhi peradaban-peradaban besar sejak masa Fir’aun, Romawi, Bizantium, Arab, Mamluk dan Turki, bahkan sampai dengan Eropa moderen. Hal ini menunjukkan bahwa Mesir, terutama kota Kairo, mempunyai arti penting bagi perkembangan awal tradisi keilmuan Hassan Hanafi.

Riwayat Hidup dan Kondisi Sosio-Kultural Mesir Hassan hanafi adalah Guru Besar pada fakultas Filsafat Universitas Kairo. Ia lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, di dekat Benteng Salahuddin, daerah perkampungan Al-Azhar. Kota ini merupakan tempat bertemunya para mahasiswa muslim dari seluruh dunia yang ingin belajar, terutama di Universitas Al-Azhar. Meskipun lingkungan sosialnya dapat dikatakan tidak terlalu mendukung, tradisi keilmuan berkembang di sana sejak lama. Secara historis dan kultural, kota Mesir memang telah dipengaruhi peradaban-peradaban besar sejak masa Fir’aun, Romawi, Bizantium, Arab, Mamluk dan Turki, bahkan sampai dengan Eropa moderen. Hal ini menunjukkan bahwa Mesir, terutama kota Kairo, mempunyai arti penting bagi perkembangan awal tradisi keilmuan Hassan Hanafi.

Masa kecil Hanafi berhadapan dengan kenyataan-kenyataan hi.dup di bawah penjajahan dan dominasi pengaruh bangsa asing. Kenyataan itu membangkitkan sikap patriotik dan nasionalismenya, sehingga tidak heran meskipun masih berusia 13 tahun ia telah mendaftarkan diri untuk menjadi sukarelawan perang melawan Israel pada tahun 1948. la ditolak oleh Pemuda Muslimin karena dianggap usianya masih terlalu muda. Di samping itu ia juga dianggap bukan berasal dari kelompok Pemuda Muslimin. Ia kecewa dan segera menyadari bahwa di Mesir saat itu telah terjadi problem persatuan dan perpecahan.

Ketika masih duduk di bangku SMA, tepatnya pada tahun 1951, Hanafi menyaksikan sendiri bagaimana tentara Inggris membantai para syuhada di Terusan Suez. Bersama-sama dengan para mahasiswa ia mengabdikan diri untuk membantu gerakan revolusi yang telah dimulai pada akhir tahun 1940-an hingga revolusi itu meletus pada tahun 1952. Atas saran anggota-anggota Pemuda Muslimin, pada tahun ini ini pula ia tertarik untuk memasuki organisasi Ikhwanul Muslimin. Akan tetapi, di tubuh Ikhwan-pun terjadi perdebatan yang sama dengan apa yang terjadi di Pemuda Muslimin. Kemudian Hanaafi kembali disarankan oleh para anggota Ikhwanu untuk bergabung dalam organisasi Mesir Muda. Ternyata keadaan di dalam tubuh Mesir Muda sama dengan kedua organisasi sebelumnya. Hal ini mengakibatkan ketidakpuasan Hanafi atas cara ber¬pikir kalangan muda Islam yang terkotak-kotak. Kekecewaan ini menyebabkan ia memutuskan beralih konsentrasi untuk mendalami pemikiran-pemikiran keagamaan, revolusi, dan perubahan sosial. Ini juga yang menyebabkan ia lebih tertarik pada pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb, seperti tentang prinsip-prinsip Keadilan Sosial dalam Islam.

Sejak tahun 1952 sampai dengan 1956 Hanafi belajar di Universitas Cairo untuk mendalami bidang filsafat. Di dalam periode ini ia merasakan situasi yang paling buruk di Mesir. Pada tahun 1954 misalnya, terjadi pertentangan keras antara Ikhwan dengan gerakan revolusi. Hanafi berada pada pihak Muhammad Najib yang berhadapan dengan Nasser, karena baginya Najib memiliki komitmen dan visi keislaman yang jelas.

Kejadian-kejadian yang ia alami pada masa ini, terutama yang ia hadapi di kampus, membuatnya bangkit menjadi seorang pemikir, pembaharu, dan reformis. Keprihatinan yang muncul saat itu adalah mengapa umat Islam selalu dapat dikalahkan dan konflik internal terus terjadi.

Tahun-tahun berikutnya, Hanafi berkesempatan untuk belajar di Universitas Sorborne; Perancis, pada tahun 1956 sampai 1966. Di sini ia memperoleh lingkungan yang kondusif untuk mencari jawaban atas persoalan-persoalan mendasar yang sedang dihadapi oleh negerinya dan sekaligus merumuskan jawaban-jawabannya. Di Perancis inilah ia dilatih untuk ber¬pikir secara metodologis melalui kuliah-kuliah mau¬pun bacaan-bacaan atau karya-karya orientalis. Ia sempat belajar pada seorang reformis Katolik, Jean Gitton; tentang metodologi berpikir, pembaharuan, dan sejarah filsafat. Ia belajar fenomenologi dari Paul Ricouer, analisis kesadaran dari Husserl, dan bim¬bingan penulisan tentang pembaharuan Ushul Fikih dari Profesor Masnion. Semangat Hanafi untuk mengembangkan tulisan¬-tulisannya tentang pembaharuan pemikiran Islam se¬makin tinggi sejak ia pulang dari Perancis pada tahun 1966. Akan tetapi, kekalahan Mesir dalam perang melawan Israel tahun 1967 telah mengubah niatnya itu. la kemudian ikut serta dengan rakyat berjuang dan membangun kembali semangat nasionalisme mereka. Pada sisi lain, untuk menunjang perjuangannya itu, Hanafi juga mulai memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan akademis yang telah is peroleh dengan memanfaatkan media massa sebagai corong perjuangannya. Ia menulis banyak artikel untuk menangggapi masalah-masalah aktual dan melacak faktor kelemahan umat Islam.

Di waktu-waktu luangnya, Hanafi mengajar di Universitas Kairo dan beberapa universitas di luar negeri. Ia sempat menjadi profesor tamu di Perancis (1969) dan Belgia (1970). Kemudian antara tahun 1971 sampai 1975 ia mengajar di Universitas Tem¬ple, Amerika Serikat. Kepergiannya ke Amerika, sesungguh¬nya berawal dari adanya keberatan pemerintah terhadap aktivitasnya di Mesir, sehingga ia diberikan dua pilihan apakah ia akan tetap meneruskan aktivitas¬nya itu atau pergi ke Amerika Serikat. Pada kenyataannya, aktivitasnya yang baru di Amerika memberinya kesempatan untuk banyak menulis tentang dialog antaragama dengan revolusi. Baru setelah kembali dari Amerika ia mulai menulis tentang pembaru¬an pemikiran Islam. la kemudian memulai penulisan buku Al-Turats wa al-Tajdid. Karya ini, saat itu, belum sempat ia selesaikan karena ia dihadapkan pada gerakan anti-pemerintah Anwar Sadat yang pro-Barat dan “berkolaborasi” dengan Israel. la terpaksa harus terlibat untuk membantu menjernihkan situasi melalui ulisan-tulisannya yang berlangsung antara tahun 1976 hingga 1981. Tulisan¬-tulisannya itulah yang kemudian tersusun menjadi buku Al Din wa AI- Tsaurah. Sementara itu, dari tahun 1980 sampai 1983 ia menjadi profesor tamu di Univer¬sitas Tokyo, tahun 1985 di Emirat Arab. Ia pun diminta untuk merancang berdirinya Universitas Fes ketika ia mengajar di sana pada tahun-tahun 1983-1984.

Hanafi berkali-kali mengunjungi negara-negara Belanda, Swedia, Portugal, Spanyol, Perancis, Jepang, India, Indonesia, Sudan, Saudi Arabia dan sebagainya antara tahun 1980-1987. Pengalaman pertemuannya dengan para pemikir besar di negara-negara tersebut telah menambah wawasannya untuk semakin tajam memahami persoalan-persoalan yang dihadapi oleh dunia Islam.

Maka, dari pengalaman hidup yang ia peroleh sejak masih remaja membuat ia memiliki perhatian yang begitu besar terhadap persoalan umat Islam. Karena itu, meskipun tidak secara sepenuhnya mengabdikan diri untuk sebuah pergerakan tertentu, ia pun banyak terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan pergerakan-pergerakan yang ada di Mesir. Sedangkan pengalamannya dalam bidang akademis dan intelek¬tual, baik secara formal maupun tidak, dan pertemuan¬nya dengan para pemikir besar dunia semakin mempertajam analisis dan pemikirannya sehingga mendorong hasratnya untuk terus menulis dan mengembangkan pemikiran-pemikiran baru untuk membantu menyelesaikan persoalan-persolan besar umat Islam.

Perkembangan Pemikiran dan Karya-Karyanya

Untuk memudahkan uraian pada bagian ini, kita dapat mengklasifikasikan karya-karya Hanafi dalam tiga periode seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa penulis yang telah lebih dulu mengkaji pemikiran tokoh ini: Penode pertama berlangsung pada tahun-tahun 1960-an; periode kedua pada tahun-tahun 1970-an, dan periode ketiga dari tahun-tahun 1980-an sampai dengan 1990-an.

Pada awal dasawarsa 1960-an pemikiran Hanafi dipengaruhi oleh faham-faham dominan yang ber¬kembang di Mesir, yaitu nasionalistik-sosialistik po¬pulistik yang juga dirumuskan sebagai ideologi Pan Arabisme, dan oleh situasi nasional yang kurang menguntungkan setelah kekalahan Mesir dalam perang melawan Israel pada tahun 1967. Pada awal dasawarsa ini pula (1956-1966), sebagaimana telah dikemukakan, Hanafi sedang berada dalam masa-masa belajar di Perancis. Di Perancis inilah, Hanafi lebih banyak lagi menekuni bidang-bidang filsafat dan ilmu sosial dalam kaitannya dengan hasrat dan usahanya untuk melakukan rekonstruksi pemikiran Islam.

Untuk tujuan rekonstruksi itu, selama berada di Perancis ia mengadakan penelitian tentang, terutama, metode interpretasi sebagai upaya pembaharuan bidang ushul fikih (teori hukum Islam, Islamic legal the¬ory) dan tentang fenomenologi sebagai metode untuk memahami agama dalam konteks realitas kontempo¬rer. Penelitian itu sekaligus merupakan upayanya un¬tuk meraih gelar doktor pada Universitas Sorbonne (Perancis), dan ia berhasil menulis disertasi yang berjudul Essai sur la Methode d' Exegese (Esai tentang Metode Penafsiran). Karya setebal 900 halaman itu memperoleh penghargaan sebagai karya iliniah terbaik di Mesir pada tahun 1961. Dalam karyanya itu jelas Hanafi berupaya menghadapkan ilmu ushul fikih pada mazhab filsafat fenomenologi Edmund Husserl.

Pada fase awal pemikirannya iru, tulisan-tulisan Hanafi masih bersifat ilmiah murni. Baru pada akhir dasawarsa itu ia mulai berbicara tentang keharusan Islam untuk mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dan berdimensi pembebasan (taharrur, liberation). Ia mensyaratkan fungsi pembebasan jika memang itu yang diinginkan Islam agar dapat membawa masyarakat pada kebebasan dan keadilan, khususnya keadilan sosial, sebagai ukuran utamanya. Struktur yang populistik adalah manifestasi kehidupannya dan kebulatan kerangka pemikiran sebagai resep utamanya. Hanafi sampai pada kesimpulan bahwa Islam sebaiknya berfungsi orientatif bagi ideologi populistik yang ada.

Pada akhir periode ini, dan berlanjut hingga awal periode 1970-an, Hanafi juga memberikan perhatian uta¬manya untuk mencari penyebab kekalahan umat Islam dalam perang melawan Israel tahun 1967. Oleh karena itu, tulisan-tulisannya lebih bersifat populis. Di awal peri¬ode 1970-an, ia banyak menulis artikel di berbagai media massa, seperti Al Katib, Al-Adab, Al-Fikr al-Mu’ashir, dan Mimbar Al-Islam. Pada tahun 1976, tulisan-tulisan itu diterbitkan sebagai sebuah buku dengan judul Qadhaya Mu’ashirat fi Fikrina al-Mu’ashir. Buku ini memberikan deskripsi tentang realitas dunia Arab saat itu, analisis tentang tugas para pemikir dalam menanggapi pro¬blema umat, dan tentang pentingnya pembaruan pemi¬kiran Islam untuk menghidupkan kembafi khazanah tradisional Islam. Kemudian, pada tahun 1977, kembali ia menerbitkan Qadhaya Mu `ashirat fi al Fikr al-Gharib. Buku kedua ini mendiskusikan pemikiran para sarjana Barat untuk melihat bagaimana mereka memahami persoalan masyarakatnya dan kemudian mengadakan pembaruan. Beberapa pemikir Barat yang ia singgung itu antara lain Spinoza, Voltaire, Kant, Hegel, Unamuno, Karl Jaspers, Karl Marx, Marx Weber, Edmund Husserl, dan Herbert Marcuse.

Kedua buku itu secara keseluruhan merangkum dua pokok pendekatan analisis yang berkaitan dengan sebab-sebab kekalahan umat Islam; memahami posisi umat lslam sendiri yang lemah, dan memahami posisi Barat yang superior. Untuk yang pertama penekanan diberikan pada upaya pemberdayaan umat, terutama dari segi pola pikirnya, dan bagi yang kedua ia berusaha untuk menunjukkan bagaimana menekan superioritas Barat dalam segala aspek kehidupan. Kedua pendekatan inilah yang nantinya melahirkan dua pokok pemikiran baru yang tertuang dalam dua buah karyanya, yaitu Al-Turats wa al-Tajdid (Tradisi dan Pembaruan), dan Al-Istighrab (Oksidentalisme).

Pada periode ini, yaitu antara tahun-tahun 1971-1975, Hanafi juga menganalisis sebab-sebab ketegangan antara berbagai kelompok kepentingan di Mesir, terutama antara kekuatan Islam radikal dengan pe¬merintah. Pada saat yang sama situasi politik Mesir mengalami ketidakstabilan yang ditandai dengan beberapa peristiwa penting yang berkaitan dengan sikap Anwar Sadat yang pro-Barat dan memberikan kelonggaran pada Israel, hingga ia terbunuh pada Oktober 1981. Keadaan itu membawa Hanafi pada pemikiran bahwa seorang ilmuan juga harus mempunyai tanggung jawab politik terhadap nasib bangsanya. Untuk itulah kemudian ia menulis Al-Din wa al-Tsaurah fi Mishr 1952-1981. Karya ini terdiri dari 8 jilid yang merupakan himpunan berbagai artikel yang ditulis antara tahun 1976 sampai 1981 dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1987. Karya itu berisi pembicaraan dan analisis tentang kebudayaan nasional dan hubungannya dengan agama, hubungan antara agama dengan perkembangan nasioanlisme, tentang gagasan mengenai gerakan "Kiri Keagamaan" yang membahas gerakan-gerakan keagamaan kontemporer, fundamentalisme Islam, serta "Kiri Islam dan Integritas Nasional". Dalam analisisnya Hanafi menemukan bahwa salah satu penyebab utama konflik berkepanjangan di Mesir adalah tarik-menarik antara ideologi Islam dan Barat dan ideologi sosialisme. Ia juga memberikan bukti-bukti penyebab muncul¬nya berbagai tragedi politik dan, terakhir, menganali¬sis penyebab munculnya radikalisme Islam.

Karya-karya lain yang ia tulis pada periode ini adalah Religious Dialogue and Revolution dan Dirasat al-Islamiyyah. Buku pertama berisi pikiran-pikiran yang ditulisnya antara tahun 1972-1976 ketika ia berada di Amerika Serikat, dan terbit pertama kali pada tahun 1977. Pada bagian pertama buku ini ia merekomendasikan metode hermeneutika sebagai metode dialog antara Is¬lam, Kristen, dan Yahudi. Sedangkan bagian kedua secara khusus membicarakan hubungan antara agama dengan revolusi, dan lagi-lagi ia menawarkan feno¬menologi sebagai metode untuk menyikapi dan menafsirkan realitas umat Islam.

Sementara itu Dirasat Islamiyyah, yang ditulis sejak tahun 1978 dan terbit tahun 1981, memuat deskripsi dan analisis pembaruan terhadap ilmu-ilinu keislaman klasik, seperti ushul fikih, ilmu-ilmu ushuluddin, dan filsafat. Dimulai dengan pendekatan historis untuk melihat perkembangannya, Hanafi berbicara tentang upaya rekonstruksi atas ilmu-ilmu tersebut untuk dise¬suaikan dengari realitas kontemporer.

Periode selanjutnya, yaitu dasawarsa 1980-an sampai dengan awal 1990-an, dilatarbelakangi oleh kondisi politik yang relatif lebih stabil ketimbang masa-masa sebelumnya. Dalam periode ini, Hanafi mulai menulis Al-Turats wa al-Tajdid yang terbit pertama kali tahun 1980. Buku ini merupakan landasan teoretis yang memuat dasar-dasar ide pembaharuan dan langkah-langkahnya. Kemudian, ia menulis Al- Yasar Al-lslamiy (Kiri Islam), sebuah tulisan yang lebih merupakan sebuah "manifesto politik" yang berbau ideologis, sebagaimana telah saya kemukakan secara singkat di atas.

Jika Kiri Islam baru merupakan pokok-pokok pikiran yang belum memberikan rincian dari program pembaruannya, buku Min Al-Aqidah ila Al-Tsaurah (5 jilid), yang ditulisnya selama hampir sepuluh tahun dan baru terbit pada tahun 1988. Buku ini memuat uraian terperinci tentang pokok-pokok pembaruan yang ia canangkan dan termuat dalam kedua karyanya yang terdahulu. Oleh karena itu, bukan tanpa alasan jika buku ini dikatakan sebagai karya Hanafi yang paling monumental.

Satu bagian pokok bahasan yang sangat penting dari buku ini adalah gagasan rekonstruksi ilmu kalam. Pertama-tama ia mencoba menjelaskan seluruh karya dan aliran ilmu kalam, baik dari sisi kemunculannya, aspek isi dan metodologi maupun perkembangannya. Lalu ia melakukan analisis untuk melihat kelebihan dan kekurangannya, terutama relevansinya dengan konteks modernitas. Salah satu kesimpulannya adalah bahwa pemikiran kalam klasik masih sangat teoretis, elitis dan statis secara konsepsional. Ia merekomendasikan sebuah teologi atau ilmu kalam yang antroposentris, populis, dan transformatif.

Selanjutnya, pada tahun-tahun 1985-1987, Hanafi menulis banyak artikel yang ia presentasikan dalam berbagai seminar di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Perancis, Belanda, Timor Tengah, Jepang, termasuk Indonesia. Kumpulan tulisan itu kemudian disusun menjadi sebuah.buku yang berjudul Religion, Ideology, and Development yang terbit pada tahun 1993. Beberapa artikel lainnya juga tersusun menjadi buku dan diberi judul Islam in the Modern World (2 jilid). Selain berisi kajian-kajian agama dan filsafat, dalam karya-karyanya yang terakhir pemikiran Hanafi juga berisi kajian-kajian ilmu sosial, seperti ekonomi dan teknologi. Fokus pemikiran Hanafi pada karya karya terakhir ini lebih tertuju pada upaya untuk meletakkan posisi agama serta fungsinya dalam pembangunan di negara-negara dunia ketiga.

Pada perkembangan selanjutnya, Hanafi tidak lagi berbicara tentang ideologi tertentu melainkan tentang paradigma baru yang sesuai dengan ajaran Islam sendiri maupun kebutuhan hakiki kaum muslimin. Sublimasi pemikiran dalam diri Hanafi ini antara lain didorong oleh maraknya wacana nasionalisme-pragmatik Anwar Sadat yang menggeser popularitas paham sosialisme Nasser di Mesir pada dasawarsa 1970-an. Paradigma baru ini ia kembangkan sejak paroh kedua dasawarsa 1980-an hingga sekarang.

Pandangan universalistik ini di satu sisi ditopang oleh upaya pengintegrasian wawasan keislaman dari kehidupan kaum muslimin ke dalam upaya penegakan martabat manusia melalui pencapaian otonomi individual bagi warga masyarakat; penegakan kedaulatan hukum, penghargaan pada HAM, dan penguatan (empowerment) bagi kekuatan massa rakyat jelata.

Pada sisi lain, paradigma universalistik yang diinginkan Hanafi harus dimulai dari pengembangan epistemologi ilmu pengetahuan baru. Orang Islam, menurut Hanafi, tidak butuh hanya sekadar menerima dan mengambil alih paradigma ilmu pengetahuan modern Barat yang bertumpu pada materialisme, melainkan juga harus mengikis habis penolakan mereka terhadap peradaban ilmu pengetahuan Arab. Seleksi dan dialog konstruktif dengan peradaban Barat itu dibutuhkan untuk mengenal dunia Barat dengan setepat-tepatnya. Dan upaya pengenalan itu sebagai unit kajian ilmiah, berbentuk ajakan kepada ilmu-ilmu kebaratan (al-Istighrab, Oksidentalisme) sebagai imbangan bagi ilmu-ilmu ketimuran (al-Istisyraq, Orientalisme). Oksidentalisme dimaksudkan untuk mengetahui peradaban Barat sebagaimana adanya, sehingga dari pendekatan ini akan muncul kemampuan mengembangkan kebijakan yang diperlukan kaum muslimin dalam ukuran jangka panjang. Dengan pandangan ini Hassan Hanafi memberikan harapan Islam untuk menjadi mitra bagi peradaban-peradaban lain dalam penciptaan peradaban dunia baru dan universal.







Sekitar Pandangan Hassan Hanafi tentang Teologi Tradisional Islam

Di muka telah kita lihat, meskipun dalam beberapa hal menolak dan mengkritik Barat, Hanafi banyak menyerap dan mengonsentrasikan diri pada kajian pemikir Barat pra-modern dan modern. Oleh karena itu, Shimogaki mengkatagorikan Hanafi sebagai seorang modernis-liberal, karena ide-ide liberalisme Barat, demokrasi, rasionalisme dan pencerahan telah banyak mempengaruhinya.

Pemikiran Hanafi sendiri, menurut Isaa J. Boulatta dalam Trends and lssues in Contemporary Arabs Thought bertumpu pada tiga landasan: I) tradisi atau sejarah Islam; 2) metode fenomenologi, dan; 3) analisis sosial Marxian. Dengan demikian dapat dipahami bahwa gagasan semacam Kiri Islam dapat disebut sebagai pengetahuan yang terbentuk atas dasar watak sosial masyarakat (socially contructed) berkelas yang merupakan ciri khas tradisi Marxian.

Dalam gagasannya tentang rekonstruksi teologi tradsional, Hanafi menegaskan perlunya mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan (teologi) sesuai dengan perubahan konteks sosial-poli¬tik yang terjadi. Teologi tradisional, kata Hanafi, lahir dalam konteks sejarah ketika inti keislaman sistem kepercayaan, yakni transendensi Tuhan, diserang oleh wakil-wakil dari sekte-sekte dan budaya lama. Teolo¬gi itu dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan untuk memelihara kemurniannya. Dialektika berasal dari dialog dan mengandung pengertian saling menolak; hanya merupakan dialektika kata¬-kata, bukan dialektika konsep-konsep tentang sifat masyarakat atau tentang sejarah.

Sementara itu konteks sosio-politik sekarang sudah berubah. Islam mengalami berbagai kekalahan di berbagai medan pertempuran sepanjang periode kolonisasi. Karena itu, lanjut Hanafi, kerangka konseptual lama masa-masa permulaan, yang berasal dari kebudayaan klasik harus diubah menjadi kerangka konseptual baru, yang berasal dari kebudayaan modern.

Teologi merupakan refleksi dari wahyu yang me¬manfaatkan kosakata zamannya dan didorong oleh kebutuhan dan tujuan masyarakat; apakah kebutuhan dan tujuan itu merupakan keinginan obyektif atau semata-mata.manusiawi, atau barangkali hanya meru¬pakan cita-cita dan nilai atau pernyataan egoisme murni. Dalam konteks ini, teologi merupakan basil proyeksi kebutuhan dan tujuan masyarakat manusia ke dalam teks-teks kitab suci. Ia.menegaskan, tidak ada arti-arti yang betul-betul berdiri sendiri untuk seti¬ap ayat Kitab Suci. Sejarah teologi, kata Hanafi, ada¬lah sejarah proyeksi keinginan manusia ke dalam Kitab Suci itu. Setiap ahli teologi atau. penafsir melihat dalam Kitab Suci itu sesuatu yang ingin mereka lihat. Ini menunjukkan bagaimana manusia menggantungkan kebutuhan dan tujuannya pada naskah-naskah itu.

Teologi dapat berperan sebagai suatu ideologi pembebasan bagi yang tertindas atau sebagai suatu pembenaran penjajahan oleh para penindas. Teologi memberikan fungsi legitimatif bagi setiap perjuangan kepentingan dari masing-masing lapisan masyarakat yang berbeda. Karena itu, Hanafi menyimpulkan bah¬wa tidak ada kebenaran obyektif atau arti yang berdi¬ri sendiri, terlepas dari keinginan manusiawi Kebenaran teologi, dengan demikian, adalah kebenaran korelasional atau, dalam bahasa Hanafi, persesuaian antara arti naskah asli yang berdiri sendiri dengan kenyataan obyektif yang selalu berupa nilai-nilai manusiawi yang universal. Sehingga suatu penafsiran bisa bersifat obyektif, bisa membaca kebenaran obyektif yang sama pada setiap ruang dan waktu.

Hanafi menegaskan bahwa rekonstruksi teologi tidak harus membawa implikasi hilangnya tradisi-tradisi lama. Rekonstruksi teologi untuk mengkonfrontasikan ancaman-ancaman baru yang datang ke dunia dengan menggunakan konsep yang terpelihara murni dalam sejarah. Tradisi yang terpelihara itu menentukan lebih banyak lagi pengaktifan untuk dituangkan dalam realitas duniawi yang sekarang. Dialektika harus dilakukan dalam bentuk tindakan-tindakan, bukan hanya terdiri atas konsep-konsep dan argumen-argumen antara individu-individu, melainkan dialektika berbagai masyarakat dan bangsa di antara kepentingan-kepentingan yang bertentangan.

Rekonstruksi itu bertujuan untuk mendapatkan keberhasilan duniawi dengan memenuhi harapan-harapan dunia muslim terhadap kemendekaan, kebe¬basan, kesamaan sosial, penyatuan kembali identitas, kemajuan dan mobilisasi massa. Teologi baru itu harus mengarahkan sasarannya pada manusia sebagai tujuan perkataan (kalam) dan sebagai analisis percakap¬an. Karena itu pula harus tersusun secara kemanu¬siaan.

Asumsi dasar dari pandangan teologi semacam ini adalah bahwa Islam, dalam pandangan Hanafi, ada¬lah protes, oposisi dan revolusi. Baginya, Islam me¬miliki makna ganda. Pertama, Islam sebagai ketunduk¬an; yang diberlakukan oleh kekuatan politik kelas atas. Kedua, Islam sebagai revolusi, yang diberlakukan oleh mayoritas yang tidak berkuasa dan kelas orang miskin. Jika untuk mempertahankan status-quo suatu re¬zim politik, Islam ditafsirkan sebagai tunduk. Sedang jika untuk memulai suatu perubahan sosial politik melawan status-quo, maka harus menafsirkan Islam sebagai pergolakan.¬

Secara generik, istilah aslama adalah menyerahkan diri kepada Tuhan, bukan kepada apa pun yang lain. Pengertian ini secara langsung menyatakan sebuah tindakan ganda; Yaitu menolak segala kekuasaan yang tidak transendental dan menerima kekuasaan transendental. Makna ganda dari kata kerja aslama dan kata benda Islam ini, menurut Hanafi, dengan sengaja disalahgunakan untuk mendorong Islam cenderung pada salah satu sisinya, yakni tunduk. Maka rekonstruksi teologi tradisional itu berarti pula untuk menunjukkan aspek lain dari Islam yang, menurutnya, sengaja disembunyikan, yakni penolakan, oposisi den pergolakan yang merupakan kebutuhan aktual masyarakat muslim. Di dalam hal ini, karena selalu terkait dengan masyarakat, refleksi atas nilai-nilai universal agama pun mengikuti bentuk dan struktur kemasyarakatan, struktur sosial dan kekuatan politik.
Read More...

Fazlur Rahman Alquran dan Tantangan Modernitas

Fazlur Rahman Alquran dan Tantangan Modernitas
A. Potret Seorang Intelektual Neomodernis
1. Latar Belakang sosial dan Intelektual
Fazlur Rahman dilahirkan pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermadzhab Hanafi, suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya. Ketika itu anak benua Indo-Pakistan belum terpecah ke dalam dua negara merdeka, yakni India dan Pakistan. Anak benua ini terkenal dengan para pemikir islam liberalnya, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyid Ali dan Iqbal.

Sejak kecil sampai umur belasan tahun, selain mengenyam pendidikan formal, Rahman juga menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya--seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua Indo-Pakistan. Menurut Rahman sendiri, ia dilahirkan dalam keluarga muslim yang amat religius. Ketika menginjak usia yang kesepuluh, ia sudah bisa membaca Al-Qur’an di luar kepala. Ia juga menerima ilmu hadis dan ilmu syariah lainnya. Menurut Rahman, berbeda dengan kalangan tradisional pada umumnya, ayahnya adalah seorang kyai tradisional yang memandang modernitas sebagai tantangan yang perlu disikapi, bukannya dihindari. Ia apresiatif terhadap pendidikan modern. Karena itu, keluarga Rahman selain kondusif bagi perkenalannya dengan ilmu-ilmu dasar tradisional, juga bagi kelanjutan karier pendidikannya.

Selain itu, latar sosial anak benua Indo-Pakistan yang telah melahirkan sejumlah pemikir Islam liberal, seperti disinggung di atas, juga merupakan benih-benih dari mana pikiran liberal Rahman dan skeptisisme Rahman tumbuh. Misalnya, Rahman sangat apresiatif terhadap pemikiran pendahulunya. Bahkan dalam pembahasannya mengenai wahyu ilahi dan nabi, ia secara eksplisit mengakui bahwa pemikirannya merupakan kelanjutan dari pemikiran pendahulunya, yakni Sah Wali Allah dan Muhammad Iqbal:

Dengan demikian, argumen saya tentang kemapanan karakter wahyu Al-Qur’an terdiri dari dua bagian. Dalam bagian Pertama, saya telah menyetujui—dan tidak berbuat lebih lagi terhadap—pernyataan-pernyataan syah wali Allah dan Muhammad Iqbal yang menerangkan proses psikologis wahyu.

2. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman
Setelah menamatkan sekolah menengah, Rahman mengambil studi bidang sastra arab di Departeman Ketimuran pada Universitas Punjab. Pada tahun 1942, ia berhasil menyelesaikan studinya di Universitas tersebut dan menggondol gelar M. A dalam sastra Arab. Merasa tidak puas dengan pendidikan di tanah airnya, pada 1946, Rahman melanjutkan studi doktoralnya ke Oxford University, dan berhasil meraih gelar doktor filsafat pada tahun 1951. Pada masa ini seorang Rahman giat mempelajari bahasa-bahasa Barat, sehinga ia menguasai banyak bahasa. Paling tidak ia menguasai bahasa Latin, Yunani, Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Persia, Arab dan Urdu. Ia mengajar beberapa saat di Durham University, Inggris, kemudian menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Islamic Studies, McGill University, Kanada.

Sekembalinya ke tanah air, Pakistan, pada Agustus 1962, ia diangkat sebagai direktur pada Institute of Islamic Research. Belakangan, ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan, tahun 1964. Lembaga Islam tersebut bertujuan untuk menafsirkan islam dalam term-term rasional dan ilmiah dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. Sedangkan Dewan Penasehat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum baik yang sudah maupun belum ditetapkan, dengan tujuan menyelaraskannya dengan “Al-Qur’an dan Sunnah”. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat, karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang

Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. Tentu saja gagasan-gagasan liberal Rahman, yang merepresentasikan kaum modernis, selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan. Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank, sunnah dan hadis, zakat, proses turunnya wahyu Al-Qur’an, fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis, dan lainnya, telah meledakkan kontroversi-kontroversi berskala nasional yang berkepanjangan. Bahkan pernyataan Rahman dalam karya magnum opusnya, Islam, bahwa “Al-Qur’an itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”, telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. Banyak media yang menyudutkannya. Al-Bayyinat, media kaum fundamentalis, misalnya, menetapkan Rahman sebagai munkir al-Quran. Puncak kontroversi ini adalah demonstrasi massa dan aksi mogok total, yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. Akhirnya, Rahman pun mengajukan pengunduran dirinya dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969.

Akhirnya, Rahman memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago. Bagi Rahman, tampaknya tanah airnya belum siap menyediakan lingkungan kebebasan intelektual yang bertanggungjawab.

3. Perkembangan Pemikiran dan Karya-karyanya
Dari selintas perjalanan hidup Fazlur Rahman di atas, Taufik Adnan Amal membagi perkembangan pemikirannya ke dalam tiga babakan utama, yang di dasarkan pada perbedaan karakteristik karya-karyanya: (I) periode awal (dekade 50-an); periode Pakistan (dekade 60-an); dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya).

Ada tiga karya besar yang disusun Rahman pada periode awal: Avicenna’s Psychology (1952); Avicenna’s De Anima (1959); dan Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Dua yang pertama merupakan terjemahan dan suntingan karya Ibn Sina (Avisena). Sementara yang terakhir mengupas perbedaan doktrin kenabian antara yang dianut oleh para filosof dengan yang dianut oleh ortodoksi. Untuk melacak pandangan filosof, Rahman mengambil sampel dua filosof ternama, Al-Farabi (870-950) dan Ibn Sina (980-1037). Secara berturut-turut, dikemukakan pandangan kedua filosof tersebut tentang wahyu kenabian pada tingkat intelektual, proses psikologis wahyu tehnis atau imaninatif, doktrin mukjizat dan konsep dakwah dan syariah. Untuk mewakili pandangan ortodoksi, Rahman menyimak pemikiran Ibn Hazm, Al-Ghazali, Al-Syahrastani, Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun. Hasilnya adalah kesepekatan aliran ortodoks dalam menolak pendekatan intelektualis-murni para filosof terhadap fenomena kenabian. Memang, Kalangan mutakallimun tidak begitu keberatan menerima kesempurnaan intelektual nabi. Tapi mereka lebih menekankan nilai-nilai syariah ketimbang intelektual.

Rahman sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara posisi filosofis dan ortodoksi. Sebab, perbedaan ada sejauh pada tingkat penekanan saja. Menurut para filosof, nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Intelek Aktif; sementara menurut ortodoksi nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan malaikat. Sementara para filosof lebih menekankan kapasitas alami nabi sehingga menjadi “nabi-manusia”, ortodoksi lebih suka meraup karakter ilahiah dari mukjziat wahyu ini. Kelak, pandangan ini cukup mempunyai pengaruh terhadap pandangan Rahman tentang proses “psikologis” nabi menerima wahyu. Seperti halnya teori para filosof dan kaum ortodoks, Rahman berteori bahwa Nabi mengidentifikasikan dirinya dengan hukum moral.

Pada periode kedua (Pakistan), ia menulis buku yang berjudul: Islamic Methodology in History (1965). Penyusunan buku ini bertujuan untuk memperlihatkan: (I) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar (sumber pokok) pemikiran Islam—Al-Qur’an, Sunnah, Ijtihad dan Ijma’; dan (ii) peran aktual prinsip-prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri. Buku kedua yang ditulis Rahman pada periode kedua ini adalah Islam, yang menyuguhkan—meminjam istilah Amin Abdullah—rekontruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad. Buku ini boleh dibilang sebagai advanced introduction tentang Islam.

Pada periode Chicago, Rahman menyusun: The Philosophy of Mulla Sadra (1975), Major Theme of the Qur’an (1980); dan Islam and Modernity:Transformatioan of an intellektual tradition (1982).

Kalau karya-karya Rahman pada periode pertama boleh dikata bersifat kajian historis, pada periode kedua bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif), maka karya-karya pada periode ketiga ini lebih bersifat normatif murni. Pada periode awal dan kedua, Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. Baru pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya, setelah mebagi babakan pembaruan dalam dunia Islam, sebagai juru bicara neomodernis.

B. Proyek Membuka Pintu Ijtihad
Temuan historis Rahman mengenai evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Al-Qur’an, Sunnah, Ijtihad dan Ijma’), dalam bukunya Islamic Methodology in History (1965), yang dilatari oleh pergumulannya dalam upaya-upaya pembaruan (hukum) Islam di Pakistan, pada gilirannya telah mengantarkannya pada agenda yang lebih penting lagi: perumusan kembali penafsiran Al-Qur’an yang merupakan jantung ijtihadnya.

Dalam kajian historisnya ini, Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi SAW dan aktivitas ijtihad-ijma’. Bagi Rahman, sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal, melalui instrumen qiyas, terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau sunnah yang hidup. Di sini, secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi, dengan sunnah hidup kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. Dengan demikian, ijma’ pada asalnya tidaklah statis, melainkan berkembang secara demokratis, kreatif dan berorientasi ke depan. Namun demikian, karena keberhasilan gerakan penulisan hadis secara besar-besaran yang dikampanyekan Al-syafi’I untuk menggantikan proses sunah-ijtihad-ijma’ tersebut, proses ijtihad-ijma’ terjungkirbalikkan menjadi ijma’-ijtihad. Akibatnya, ijma’ yang tadinya berorientasi ke depan menjadi statis dan mundur ke belakang: mengunci rapat kesepakan-kesepakatan muslim masa lampau. Puncak dari proses reifikasi ini adalah tertutupnya pintu ijtihad, sekitar abad ke empat Hijrah atau sepuluh masehi.

Berpijak pada temuan historis ini, Rahman secara blak-blakan menolak doktrin tertutupnya pintu ijtihad, ataupun pemilahannya ke dalam ijtihad muthlaq, ijtihad fil masail, dan ijtihad fil madzhab. Rahman mendobrak doktrin ini dengan beberapa langkah: Pertama (1), menegaskan bahwa ijtihad bukanlah hak privilise eksklusif golongan tertentu dalam masyarakat muslim; Kedua (2), menolak kualifikasi ganjil mengenai ilmu gaib misterius sebagai syarat ijtihad; dan Ketiga (3), memperluas cakupan ranah ijtihad klasik. Hasilnya adalah satu kesimpulan Rahman: ijtihad baik secara teoritis maupun secara praktis senantiasa terbuka dan tidak pernah tertutup. Tetapi, Rahman pun tampaknya tidak ingin daerah teritorial kebebasan ijtihad yang telah dibukanya—sebagai hasil dari liberalisasinya terhadap konsep ijtihad—menjadi tempat persemaian dan pertumbuhan ijtihad yang liar, sewenang-wenang, serampangan dan tidak bertanggung jawab. Ijtihad yang diinginkan Rahman adalah upaya sistematis, komprehensif dan berjangka panjang. Untuk mencegah ijtihad yang sewenag-wenang dan merealisasikan ijtihad yang bertanggung jawab itulah, Rahman mengajukan metodologi tafsirnya, yang disusun belakangan pada periode Chicago. Dan dalam konteks inilah metodologi tafsir Rahman yang dipandangnya sebagai “the correct prosedure for understanding the Qur’an” atau “ the correct methode of Interpreteting The Qur’an” memainkan peran sentral dalam seluruh bangunan pemikirannya. Metodologi tafsir Rahman merupakan jantung ijtihadnya sendiri. Hal ini selain didasarkan pada fakta bahwa Al-Qur’an sebagai sumber pokok ijtihad, juga yang lebih penting lagi adalah didasarkan pada pandangannya bahwa seluruh bangunan syariah harus diperiksa dibawah sinaran bukti Al-Qur’an:

Seluruh kandungan syari’ah mesti menjadi sasaran penilikan yang segar dalam sinaran bukti Al-Qur’an. Suatu penafsiran Al-Qur’an yang sistematis dan berani harus dilakukan.

Akan tetapi, justru persoalannya terletak pada kemampuan kaum muslim untuk mengkonsepsi Al-Qur’an secara benar. Rahman menegaskan:

bukan hanya kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagai mana yang dilakukan pada masa lalu, tetapi suatu pemahaman terhadap keduanyalah yang akan memberikan pimpinan kepada kita dewasa ini. Kembali ke masa lampau secara sederhana, tentu saja kembali keliang kubur. Dan ketika kita kembali kepada generasi muslim awal ,pasti kita temui pemahaman yang hidup terhadap Al-Qur’an dan sunnah

C. Apa itu Al-Qur’an dan Apa Tujuan Metodologi Tafsir
Pandangan Rahman mengenai Al-Qur’an merupakan landasan bagi perumusan metodologi tafsirnya. Bahwa Al-Qur’an itu adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW, menurut Rahman, merupakan kepercayaan pokok. Tanpa kepercayaan ini, tidak seorang pun yang bahkan dapat menjadi muslim nominal (hanya nama saja). Karena itu, Rahman memberikan argumen yang sangat kokoh untuk menegaskan kemapanan karakter wahyu dari Al-Qur’an ini. Rahman mengutip kembali apa yang telah ditulisnya dalam Islam:

Bagi Al-Qur’an sendiri, dan konsekwensinya juga bagi kaum muslimin, Al-Qur’an adalah kalam Allah. Muhammad juga dengan tegas meyakinai bahwa ia adalah penerima risalah dari Tuhan, yang sepenuhnya lain, demikian hebatnya, hingga ia menolak—atas dasar kuatnya keyakinan ini—beberapa klaim mendasar dari tradisi Yudeo-Kristiani mengenai Ibrahim dan nabi-nabi lainnya.

Konsepsinya mengenai Al-Qur’an secara sederhana dapat dijabarkan ke dalam nuktah-nuktah sebagai berikut:

  1. Al-Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah, dan dalam pengertian biasa, juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad.
  2. Al-Qur’an adalah respon ilahi, melalui ingatan dan pikiran nabi, terhadap situasi moral-sosial arab pada masa nabi, khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada waktu itu.
  3. Karenanya, semangat atau elan vital Al-Qur’an adalah semangat moral, darimana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial. Hukum moral adalah abadi, ia adalah hukum Allah. Al-Qur’an terutama sekali adalah sebuah prinsip-prinsip dan seruan-seruan keagamaan serta moral, bukan sebuah dokumen legal. karenanya, keabadian kandungan legal spesifik Al-Qur’an terletak pada prinsip-prinsip moral yang menasarinya, bukan pada ketentuan-ketentuan harfiahnya.
  4. Al-Quran merupakan sosok ajaran yang koheren dan kohesif. Kepastian pemahaman tidaklah terletak pada arti dari ayat-ayat individual Al-Qur’an, tetapi terdapat pada Al-Qur,an secara keseluruhan, yakni suatu satu set prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang koheren di mana keseluruhan ajarannya bertumpu.
  5. Al-Qur’an adalah dokumen untuk manusia, bukan risalah mengenai Tuhan. Perhatian utama Al-Qur’an adalah perilaku manusia. Karenanya ia lebih berorientasi pada aksi moral ketimbang spekulasi intelektual.
  6. Tetapi, di atas segalanya, dalam kenyataannya, Al-Qur’an itu laksana puncak gunung es yang terapung: sembilan sepersepuluh darinya terendam di bawah permukaan air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak ke permukaan. Tidak satupun dari orang-orang yang telah serius berupaya memahami al-Qur’an dapat menolak kenyataan bahwa sebagian besar Al-Qur’an mensyaratkan pengetahuan mengenai situasi-situasi kesejarahan yang baginya pernyataan-pernyataan Al-Qur’an memberikan solusi-solusi, komentar-komentar dan respon.

Sampai pada titik ini, Rahman menandaskan bahwa tujuan ideal-moral Al-Qur’an yang merupakan elan vitalnya itu telah terkubur dalam endapan geologis sebagai akibat dari proses reifikasi yang begitu panjang. Hal ini merupakan harga yang harus dibayar (cost) dari perluasan wilayah islam yang terlalu cepat, tanpa diimbangi infrastruktur tingkat pemahaman keagamaan yang memadai. Karena itu, metodologi yang diharapkan adalah metodologi yang, tentu saja, bisa menembus endapan sejarah tersebut sampai lapisan terdalam.

Dengan demikian, dapat pahami bahwa tujuan metodologi tafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moral universal Al-Qur’an yang obyektif itu, dengan cara membiarkan Al-Qur’an berbicara sendiri, tanpa ada paksaan dari luar dirinya, untuk kemudian diterapkan pada realitas kekinian. Misalnya, dalam masalah hukum, bagi Rahman, tujuan tafsirnya adalah untuk menangkap resiones logis yang berada di balik pernyataan formal Qur’an. Untuk inilah Rahman sering menyebut-nyebut kasus ijtihad Umar bin Khaththab yang dinilainya sebagai preseden baik (uswah) untuk mengeneralisasikan prinsip-prinsip dan nilai-niali umum yang berada di bawah permukaan Sunah dan bahkan teks Al-Qur’an.

D. Metodologi Tafsir Rahman

Metodologi tafsir Rahman tidak bisa lepas dari agenda pembaruan sebelumnya. Karenanya, ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu pandangannya mengenai dialektika perkembangan pembaruan yang muncul dalam dunia Islam. Rahman membagi gerakan pembaruan ke dalam empat gerakan. Gerakan pertama adalah revivalisme pra modernis yang lahir pada abad ke 18 dan 19 di Arabia, India dan Afrika. Gerakan ini muncul secara orisinal dari dunia Islam, bukan merupakan reaksi terhadap barat. Gerakan ini secara sederhana mempunyai ciri-ciri umum: (a) keprihatinan yang mendalam terhadap degenarasi sosio-moral umat Islam; (b) imbauan untuk kembali kepada Islam yang sebenarnya, dengan memberantas takhayul-takhayul dan dengan membuka dan melaksanakan ijtihad; (c) imbauan untuk membuang sikap fatalisme; dan (d) imbauan untuk melaksanakan pembaruan ini lewat jihad jika diperlukan.

Menurut Rahman, dasar pembaruan revivalisme pramodernis ini kemudian dikembangkan oleh gerakan kedua, modernisme klasik, yang muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di bawah pengaruh ide-ide barat. Pengembangannya terletak pada usaha gerakan ini untuk memperluas isi ijtihad—dan juga agenda gerakan—seperti isu tentang hubungan akal dan wahyu, pembaruan sosial terutama pada bidang pendidikan dan status wanita, pembaruan politik untuk membetuk pemerintahan yang representatif dan konstitusional. Jasa modernisme klasik ini adalah usahanya untuk menciptakan hubungan harmonis antara pranata-pranata barat dengan tradisi Islam dalam kacamata Al-Qur’an dan sunnah. Hanya saja, penafsiran mereka terhadap Qur’an dan sunnah ini tidak ditopang dengan metodologi yang memadai. Mereka lebih banyak mengadopsi isu-isu dari barat dan membungkusnya dengan bahasa “Qur’an”. Akibatnya, gerakan ini samasekali tidak bisa lepas dari kesan barat sentris, atau bahkan dari tuduhan sebagai gerakan antek-antek barat yang ingin merusak Islam, bak kanker, dari dalam dunia Islam sendiri.

Reaksi terhadap modernisme klasik ini adalah gerakan ketiga, yakni neorevivalisme atau revivalisme pascamodernis, yang memandang bahwa Islam itu mencakup segala aspek kehidupan manusia, baik individual maupun kelompok. Pandangan ini mirip dengan basis pemikiran modernisme klasik. Namun karena sifatnya yang reaksioner, ingin membedakan dirinya dengan barat, gerakan ini cenderung menutup diri, apologetis dan tidak otentik.

Di sela-sela pengaruh neorevivalisme inilah gerakan neomodernis muncul, dan Rahman mengaku dirinya sebagai juru bicara gerakan ini. Bagi Rahman, ada dua kelemahan mendasar modrnisme klasik ini yang menyebabkan timbulnya reaksi dari neorevivalisme. Pertama, karena sifatnya yang kontroversialis-apologetis terhadap barat, gerakan ini tidak mampu melakukan interpretasi yang sistematis dan menyeluruh terhadap Islam. Akibatnya, penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an lebih bersifat ad hoc dan parsial. Kedua, isu-isu yang mereka angkat berasal dari dan dalam dunia barat sehingga ada kesa kuat bahwa mereka terbaratkan atau agen westernisasi.

Menurut Rahman, neomodernisme harus mengembangkan sikap kritis baik terhadap barat maupun terhadap khazanah klasik warisan Islam. Dalam konteks inilah ia mengatakan bahwa tugas yang paling mendasar dari kalangan neomodernisme ini adalah mengembangkan suatu metodologi yang tepat dan logis untuk mempelajari al-Qur’an guna mendapatkan petunjuk bagi masa depannya. Dengan metodologi ini Rahman menjanjikan bahwa metodologi yang ditawarkannya dapat menghindari pertumbuhan ijtihad yang liar dan sewenang-wenang, sebagaimana yang terjadi sebelumnya.

Metodologi tafsir Fazlur Rahman merupakan gerakan ganda (bolak-balik). Yang pertama dari dua gerakan ini terdiri dari dua langkah. Pertama, memahami arti atau makna suatu pernyataan Al-Qur’an, dengan mengkaji situasi atau problem historis dari mana jawaban dan respon Al-Qur’an muncul. Mengetahui makna spesifik dalam sinaran latar belakang spesifiknya, tentu saja, menurut Rahman juga harus ditopang dengan suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan agama, masyarakat, adat-istiadat dan lembaga-lembaga, serta mengenai kehidupan menyeluruh Arab pada saat Islam datang. Langkah kedua dari gerakan pertama ini adalah menggeneralisasikan dari jawaban-jawaban spesifik, pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum, yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik dengan sinaran latar belakang historis dan rationes logis yang juga kerap dinyatakan oleh ayat sendiri. Yang harus diperhatikan selama langkah ini adalah ajaran Al-Qur’an sebagai keseluruhan, sehingga setiap arti yang ditarik, setiap hukum yang disimpulkan dan setiap tujuan yang dirumuskan koheren satu sama lain. Ini sesuai dengan klaim Al-Qur’an sendiri bahwa ajarannya tidak mengandung kontradiksi-dalam dan koheren secara keseluruhan. Langkah ini juga bisa dan selayaknya dibantu oleh pelacakan terhadap pandangan-pandangan kaum muslim awal. Menurut Rahman, sampai sekarang sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk memahami Al-Qur’an secara keseluruhan.

Bila gerakan yang pertama mulai dari hal-hal yang spesifik lalu ditarik menjadi prinsip-prinsip umum dan nilai-nilai moral jangka panjang, maka gerakan kedua ditempuh dari prinsip umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasikan ke dalam kehidupan sekarang. Gerakan kedua ini mengandaikan adanya kajian yang cermat atas situasi sekarang sehingga situasi sekarang bisa dinilai dan dirubah sesuai dengan priortitas-prioritas moral tersebut. Apabila kedua momen gerakan ini ditempuh secara mulus, maka perintah Al-Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali. Bila yang pertama merupakan tugas para ahli sejarah, maka dalam pelaksanan gerakan kedua, instrumentalis sosial muthlak diperlukan, meskipun kerja rekayasa etis yang sebenarnya dalah kerja ahli etika.

Momen gerakan kedua ini juga berfungsi sebagai alat koreksi terhadap momen pertama, yakni terhadap hasil-hasil dari penafsiran. Apabila hasil-hasil pemahaman gagal diaplikasikan sekarang, maka tentunya telah terjadi kegagalan baik dalam memahami Al-Qur’an maupun dalam memahami situasi sekarang. Sebab, tidak mungkin bahwa sesuatu yang dulunya bisa dan sungguh-sungguh telah direalisasikan ke dalam tatanan spesifik di masa lampau, dalam konteks sekarang tidak bisa.

Gerakan ganda ini, digambarkan oleh Taufik Andnan Amal dengan tiga langkah metodologis utama: (a) pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Quran dalam bentangan karir dan perjuangan nabi; (b) pembedaan antara ketetakpan legal dan tujuan Al-Quran; (c) pemahaman dan penetapan sasaran Al-Qur’an dengan memperhatikan sepenuhnya latar sosiologis. Berkaitan dengan butir pertama, Rahman mengungkapkan:

Suatu pendekatan historis yang serius dan jujur harus digunakan untuk menemukan makna teks Al-Qur’an…Pertama-tama, Al-Qur’an harus dipelajari dalam tatanan historisnya. Mengawali dengan pemeriksaan terhadap bagian-bagian wahyu paling awal akan memberikan suatu persepsi yang cukup akurat mengenai dorongan dasar gerakan Islam, sebagaimana dibedakan dari pranata-pranata yang dibangun belakangan. Dan demikianlah, seseorang harus mengikuti bentangan Al-Qur’an sepanjang karir dan perjuangan nabi…Metode ini akan menunjukkan secara jelas makna keseluruhan Al-Quran dalam suatu cara yang sistematis dan koheren.

Mengenai pembedaan antara ketetapan legal dan tujuan moral Al-Qur’an, Rahman menulis:
Kemudian seseorang telah siap untuk membedakan antara ketetapan legal dan sasaran Al-Qur’an, dimana hukum diharapkan mengabdi kepadanya. Di sekali lagi seseorang berhadapan dengan bahaya subyektivitas, tetapi hal ini dapat direduksi seminimum mungkin dengan menggunakan Al-Qur’an itu sendiri. Sudah terlalu sering diabaikan baik oleh kalangan non-muslim maupun muslim sendiri bahwa Al-Quran biasanya memberikan alasan-alasan bagi pernyataan-pernyataan legal spesifiknya.

Mengenai butir ketiga, Rahman menulis:
Sasaran Al-Qur’an harus dipahami dan ditetapkan, dengan tetap memberi perhatian sepenuhnya terhadap latar sosiologis—yakni lingkungan dimana nabi bekerja dan bergerak.
Read More...

Farid Esack : Hermeneutika Al-Qur’an: Demi Liberalisme dan Pluralism

Farid Esack : Hermeneutika Al-Qur’an: Demi Liberalisme dan Pluralism

Farid Esack, lengkapnya Maulana Farid Esack, pemikir muslim asal Afrika Selatan, memang seorang juru bicara bagi solidaritas atas nama kemanusiaan bagi semua orang. Kenyataan bahwa setiap orang adalah manusia harus dikedepankan di atas pertimbangan lainnya, termasuk agamanya. Apapun agama seseorang tidak lantas menurunkan derajatnya sebagai manusia seperti diri kita sendiri.

Farid Esack dengan keberanian yang dimilikinya sangat meyakini, bahwa Kitab Suci Al-Qur’an adalah sebuah wahyu yang memberikan pemihakan kepada kelompok lemah atau mustad’afin. Maka apapun penafsiran seseorang atas Al-Qur’an harus berpihak kepada kaum mustad’afin. Komitmen membangun sebuah masyarakat egaliter, berkeadilan, berkesetaraan, dan tanpa rasialisme harus menjadi ukuran-ukuran dalam setiap penafsiran teks-teks suci.

Dalam rentang kehidupannya di Afrika Selatan, terutama pada masa politik Apertheid (politik berdasarkan ras), telah memberikan wawasan kemanusiaan (horison of humanity) bagi Esack. Kekecewaannya pada sejumlah dogama keagamaan yang dijadikan legitimasi untuk melanggengkan penindasan dan kejemuannya terhadap kalangan konservatif yang tidak mau melihat kenyataan, bahwa masalah rasialisme dan sikap eksklusif yang berkembang di antara penganut agama-agama tidak akan memberikan solusi bagi masyarakat Afrika Selatan agar terlepas dari genggaman politik Apertheid. Betapa kecewanya Farid ketika menyaksikan bagaimana para penganut Islam dan Kristen berebut lahan membangun tempat ibadah, Gereja dan Masjid, untuk menunjukkan superioritas satu atas lainnya daripada memikirkan pentingnya membangun landasan bersama dalam menyelesaikan penindasan yang mereka alami.

Dengan sikap terbuka dan pergaulan yang berdasarkan pada ketulusan, seperti diyakini Esack dari semenjak remaja, akan membawa agama-agama dapat bekerjasama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan anti-kemanusiaan yang terjadi dalam sebuah wilayah. Sebagai muslim, ia meyakini bahwa Al-Qur’an memberikan jawaban-jawaban bagi terwujudnya masyarakat multikutur dan multiagama. Ilham semacam ini telah mendorong Farid untuk mengelaborasi petunjuk-petunjuk Tuhan di dalam Al-Qur’an sebagai landasan untuk kebersamaan bagi umat manusia.

Pada suatu kesempatan Farid Esack mengatakan, “Batin saya senantiasa tersentuh melihat kapasitas manusia yang seolah tak habis-habisnya untuk menimbulkan ketidakadilan bagi pihak ‘lain’ (the other) , lain agama, ras, dan jenis kelamin. Sejak lama saya mencoba mengukur rasa kemanusiaan saya sendiri—atau sebaliknya, rasa tidak berperikemanusiaan saya—dalam arti kehendak saya untuk bereaksi melawan itu (penindasan), juga ketidakmauan atau penolakan saya untuk melakukannya.” Ungkapan ini mengingatkan kita pada sebuah wisdom, kata-kata bijak dari pemikir muslim klasik bernama Abu Hayyan al-Tawhidi, “al-insanu asyakalu ‘alaihi al-insan” ( seorang manusia selalu menjadi beban bagi manusia lainnya, terutama ketidakadilan dan penindasan yang dilakukannya atas sesamanya).

Pada bagian lain dalam tulisannya, Farid Esack pernah menuturkan, “Aku pernah mendengar seorang pemuda berteriak kepada Tuhan, “Lakukanlah sesuatu jika engkau memang benar-benar ada,” karena membiarkan anak-anak kelaparan. Kemudian pemuda sadar bahwa ternyata kepadanya karena membiarkan hal itu terjadi.”

Farid Esack memiliki pengalaman yang mendalam sekali dengan kemiskinan dan kelaparan. Ia lahir di Wnyberg, sebuah kota bagian dari sebuah kota terkenal di Afrika Selatan bernama Café Town pada tahun 1959 dalam asuhan seorang ibu yang menjalani hidup sebagai single parent. Ayahnya meninggalkan sang ibu ketika ia masih berumur dua minggu. Ibunya bekerja sebagai pencuci di tempat pencucian (laundry) untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang kelaparan itu sebenarnya adalah teriakan Tuhan anak-anaknya yang berjumlah enam orang.

“Cukup lama kami bersekolah tanpa sepatu dan saya masih ingat saya mesti berlari menyebrangi tanah bersalju agar kaki tidak membeku. Dan yang lebih menyakitkan, saya bersama kakak terpaksa berkeliling mengetuk pintu meminta sepotong roti atau mengaduk-aduk tempat sampah demi mencari sisa apel dan semacamnya, “ Esack mengenang masa kecilnya di kota Bonteheuwel: Sebuah tempat yang berdasarkan Akta Wilayah Kelompok (Group Area Act) yang diberikan kepada penduduk berkulit berwarna dan cokelat oleh pemerintahan Apertheid.

Di Wynberg maupun di Bonteheuwel, demografi atau susunan penduduk terdiri dari berbagai agama. Di samping agama Kristen dan Islam, ada agama Baha’i dan Yahudi. Farid mengenang tuan Frank, satu-satunya orang Yahudi di lingkungan tempat tinggalnya. Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik dari Esack ketika mengenang solidaritas tetangga-tetangganya yang beragama lain. Farid mengatakan, “kepada tetangga Kristen itulah kami bergantung demi semangkuk gula untuk menyambung nafas untuk hari-hari berikutnya. Dan mereka tempat berbagi derita. Kepada tuan Frank kami memohon perpanjangan waktu kredit yang seolah-oleh tiada akhirnya. Kenyataan bahwa penderitaan kami menjadi terpikulkan berkat solidaritas, kemanusiaan, dan senyum para tetangga Kristen membuat saya curiga pada semua ide keagamaan yang mengklaim keselamatan hanya ada bagi kelompoknya sendiri, dan mengilhami saya dengan kesadaran akan kebaikan intrinsik dari agama lain. Bagaimana mungkin saya menatap keramahan yang memancar dari Bu Batista dan Bibi Katie sembari meyakini bahwa mereka ditakdirkan masuk neraka?.”

Dari kenangan tersebut terpantul benih-benih pluralisme dalam diri Esack sejak dini. Solidaritas dan penerimaan terhadap orang lain tanpa dihantui oleh perbedaan agama, ras dan kelamim merupakan inti dari pluralisme yang tertanam kuat pada diri Esack sampai saat ini.

Sejak kecil Farid Esack sangat sensitif dengan penderitaan yang dialami dan disaksikannya di sekitarnya. Kemiskinan yang menyebabkan perut kosong menghantui kesehariannya. Ketakutannya pada hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Muslim, bahwa Nabi memohon dijauhkan dari kemiskinan dan kekafiran mendorongnya untuk belajar dengan tekun dan menjadi aktivis sosial yang gigih.

Sejak usia sembilan tahun, ia sudah bergabung dengan Jamaah Tabligh, sebuah organisasi internasional yang berpusat di Pakistan. Pada saat masih bersekolah dia pernah ditahan oleh aparat keamaan lantaran aktivitasnya pada organisasi Aksi Pemuda Nasional ( NYA=National Youth Action) dan Asosiasi Cendikiawan Kulit Hitam Afrika Selatan (SBSA) : dua organisasi yang berpusat di Christian Institute pada lantai dua. Pendeta Theo Kotze, pimpinan Christian Institute, memberikan fasilitas tempat untuk beribadah bagi orang muslim di institute tersebut. Pada saat ia masih dalam tahanan, pendeta Theo sangat rajin mendatangi dan mengunjungi keluarganya.

Pada umur limabelas tahun, Farid Esack mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Pakistan, tepatnya pada tahun 1974. Di Pakistan ia menekuni kekayaan khazanah Islam klasik dalam berbagai disiplin. Ia menyelesaikan masa belajarnya sampai mencapai tingkat akhir dan memperoleh gelar maulana.

Di Pakistan, Farid melihat sebuah tatanan sosial yang kontras dengan yang ada di Afrika Selatan. Kalau di tanah kelahirannya, komunitas Muslim menjadi minoritas, maka di Pakistan Farid menyaksikan pelecehan yang dilakukan oleh mayoritas muslim kepada minoritas Hindu dan Kristen. “ Latar belakang saya yang berasal dari sebuah keluarga muslim dalam situasi minoritas membuat saya prihatin pada pelecehan sosial dan agama atas minoritas Hindu dan Kristen,” kenangnya.

Ketatnya disiplin yang diberlakukan Jamaah Tabligh kepada para anggotanya tidak menyurutkan hati Farid untuk bergaul secara akrab dengan berbagai kelompok dari kalangan Kristen dan Hindu. Ia terlibat dalam kerja-kerja pendidikan, kesehatan, dan pangan yang dilakukan oleh kelompok Pemuda Kristen bernama Breakthrough untuk membantu kalangan miskin Kristen dan Hindu yang tinggal di perkampungan kumuh.

Tidak saja penderitaan kaum minoritas yang membuatnya prihatin secara mendalam di Pakistan, tetapi juga sikap kaum muslimin sendiri terhadap kaum perempuan. Kekerasan yang dialami oleh muslimah Pakistan mengingatkannya pada kekerasan gender yang dialami banyak perempuan di Afrika Selatan. Penderitaan kaum perempuan membawa pada kenangan akan ibunya yang meninggal pada usia 54 tahun. Ketika ibunya di kuburkan, dari kejauhan ia melihat sosok perempuan muda memberikan takzim kepada ibunya. Perempuan muda itu tidak berani mendekat ke areal pekuburan. Farid tahu kalau perempuan itu adalah kakak se-ibu yang dikucilkan dari keluarganya sampai tidak sempat menemui ibunya ketika meninggal.

Kepedihan yang timbul akibat pengalaman dan penyaksiannya akan penderitaan, eksploitasi, penindasan, dan lainnya berdasarkan agama, ras, dan seksisme membentuk kepribadian Farid menjadi seorang yang sangat sensitif dengan penindasan.

Pada 1982 Farid pulang ke Afrika Selatan. Bersama sepupunya, Ebrahim Rosool, ia mendirikan organisasi bernama Call of Islam, organisasi ini merupakan bagian dari organisasi lebih besar bernama United Democratic Front (UDF). Call of Islam merupakan sebuah lingkar studi atau diskusi antar para intelektual muda muslim Afrika Selatan yang anti-Apertheid. Farid melakukan ribuan pertemuan dan demontsrasi menentang penindasan akibat politik Apertheid. Aktivitas organisasi ini melambungkan namanya dalam berbagai forum dunia dalam bidang kerjasama antaragama, seperti World Confrence on Relegion and Peace.

Pada tahun 1990 ia berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Ia juga sempat berkelana di Jerman. Selama lima tahun ia tekun menyelesaikan studi dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Dan buku Qur’an and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Againts the Opression adalah desertasinya yang mendapatkan apresiasi luar biasa di berbagai kawasan, baik Asia, Afrika dan Eropa.

Buku Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas ( Qur’an and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Againts the Oppresion) merupakan sebuah buku yang membawa kabar gembira bagi sebuah masyarakat majemuk, baik berdasarkan agama, ras, dan suku, seperti Indonesia. Dan tentu saja, buku ini kabar tidak menggembirakan bagi mereka yang tidak memahami sejarah kemajemukan, kabar kurang mengenakkan bagi mereka yang terbiasa dengan klaim kebenaran yang eksklusif, dan tentu saja hantaman bagi mereka yang merasa paling benar di antara semua manusia.
Read More...

Followers

Total Pageviews

Popular Posts

 
© Abu Fawwaz Offical WebBlog : SOOHOO21 , Offical Web : SOOHOO21
Template by : G-JO
;